"Maka Nikmat Tuhanmu yang Manakah yang Kamu Dustakan?" QS. Ar-Rahman:55

Tuesday, November 23, 2021

Cerita Random

 Cerita Random 


Tujuh tahun di Surabaya, jadi tukang ojek adalah salah satu profesi sampingan saya. Bisa disebut seorang mahasiswa, karyawan, tukang ojek, tukang pijat, pedagang segala macam dagangan, dan masih banyak lainnya.

Disini saya akan sedikit bercerita pengalaman selama menjadi tukang ojek. Suka dukanya Masyaa Allah, membekas hingga sekarang. Nggak nyangka aja Dwi yang dulunya tukang ojek sekarang bisa kerja di depan komputer. #canda

Teriknya matahari dan juga derasnya hujan tak pernah menghalangi saya untuk terus berjuang melawan. Saya pernah dihadapkan pada kondisi dimana pas jam 12 siang antar makanan, jam 1 baru ketemu lokasinya. Nyari lokasinya sampai 1 jam. Dengan demikian akhirnya saya hafal jalan tanpa buka G-Maps. Pernah juga harus ke luar kota kepentingan pekerjaan dibawah teriknya matahari. Masyaa Allah, nikmat sekali.

Pernah juga dihadapkan pada kondisi dimana hujan deras dan angin. Berhenti sejenak pas angin. Lanjut antar pelanggan sampai tujuan kondisi jalanan tergenang air alias banjir. Sampai kos basah kuyup meskipun pakai jas hujan. Agar tidak mudah sakit, tolak angin dan madu jadi ramuan wajib saya.

Dan yang paling berkesan lagi adalah dimana saya butuh uang, disitu Allah bukain jalan. Kuncinya yakin bahwa Allah Maha Kaya. Dan jangan lupa berdo'a.

Dan berikut adalah salah satu yang berkesan.

Saat pandemi, banyak yang sakit. Tapi justru saya gencar jualan madu. Antar kesana-kemari. Sebelum berangkat kerja dan pulang kerja, selalu antar pesanan. Dan justru selama pandemi saya nggak sakit. Alhamdulillah. Eh, pernah sakit 3 hari saja. Itupun sakit panas dan saya obati dengan minum air kelapa. Alhamdulillah sembuh atas izin Allah.

Saat pandemi itu, di tempat kerjaku karyawannya di rolling terkadang juga off. Tergantung kebijakan pemerintah. Nah, saat off itulah justru saya membuka jasa belanja. Wah, saya melanggar aturan pemerintah donk ya. Maafkan ya. Haha.

Saya membuka jasa belanja bagi siapa saja yang membutuhkan. Terutama bagi yang sedang sakit, isoman ataupun lainnya. Kenapa buka jasa tersebut? Gegara saya diminta untuk antat paket isoman ke rekan kerja yang sedang isoman, lalu tak update ke story WA. Jadilah banyak yang request saya buka jasa belanja.

Pikirku, saya belum bisa bantu secara materi, tapi saya berusaha bantu mereka yang sedang sakit dengan tenaga yang ada.

Berapa fee yang saya pasang? Jujur. Saya bingung pasang tarif. Niat saya memang ingin membantu. Kalaupun dikasih, saya terima dan begitu sebaliknya. Semampunya saja. Namun, karena saya didesak masang tarif. Saya pasang semurah mungkin. Kadang malah customer yang ngasih harga sesuai ongkosnya gojek, Alhamdulillah ongkosnya lebih banyak dari tarif yang saya tetapkan. Selagi customer deal, ya saya manut aja. Pikirku, kebaikan saya belum seberapa, ya saya belajar menanam kebaikan dimasa pandemi. Gitu. Hehe. Tapi Allah kasih bonus lebih. Masyaa Allah. Tabarakallah. 

Disaat antar-antar pesanan, seringkali saya mendapatkan rezeki lebih. Saat saya belum sarapan, tetiba saya disodori nasi kotak yang katanya untuk sarapan. Saat saya butuh makan siang, ada yang tetiba datang bawain makan siang. Saat saya butuh makan malam, ada yang sengaja menyiapkan bungkusan nasi untuk saya. Selain itu, terkadang juga dikasih fee lebih. Dikasih jajan, buah, roti, susu, dan lainnya yang tak bisa kusebut satu per satu.

Saat pandemi 2020-2021 ini, saya pernah berada pada kondisi dimana selama sebulan itu aktivitasku hanya jadi tukang ojek tapi bukan ojek online yang terdaftar melainkan  langsung dapat orderan dari kalangan sendiri. Pagi, siang, sore maupun malam saya selalu siap.

Pernah pas sore, setelah magrib saya antar pesanan ke sebuah rumah mewah nan megah. Saya berdiri di depan rumah tersebut pas disebelah motor butut (shogun biru). Menyampaikan orderannya dan saya sampaikan tarifnya yang sesuai aplikasi gojek. Tak disangka saya dikasih 4x lipat dari harga gojek. Seketika itu saya ucapkan terima kasih pada tuan rumahnya, dan sepanjang jalan saya mendo'akan kebaikan untuk tuan rumah.

Tak sampai disitu, esoknya Allah kasih berlipat lagi. Ada juga yang memberikan uang pas. Berpapun saya syukuri. Berapapun saya terima. Dengan bersyukur itu, rasanya jauh lebih menenangkan dan membahagiakan. Nikmat Allah begitu luar biasa.

Semakin saya bersyukur, semakin saya merasa tidak punya apa-apa, semakin saya benar-benar merasa rendah dihadapan-Nya, semakin saya semangat untuk menebar kebaikan. Hingga akhirnya dengan uang ojek dan sedikit tabunganku, Allah cukupkan rezeki untuk beli HP yang saat ini saya pakai untuk menulis cerita ini. Lalu untuk HPku Vivo yang dulu pernah saya beli pakai uang tabungan 20ribuan itu, dipakai ibuku agar bisa video call denganku.



Surabaya, terima kasih engkau telah menjadi salah satu kota perjuanganku. Tujuh tahun disana, aku banyak belajar tentang kehidupan.

Terima kasih untuk teman-teman seperjuangan. Semoga kebaikan senantiasa membersamai kita.


Terima kasih sudah mau mampir baca cerita saya yang cukup amburadul. Haha.




Ditulis di Jombang, 23 November 2021

Read More

Sunday, August 29, 2021

Sepuluh Ribu Sebulan di Surabaya

 Sepuluh Ribu Sebulan di Surabaya



Waktu itu, di awal bulan ada hal mendadak dan urgent yang harus saya tanggung. Dan saya hanya mampu berserah dan ikhtiar sebagaimana seorang hamba.


"Ya Rabb... Ini uang titipanmu. Dalam waktu dekat aku butuh banyak untuk hal yang mendesak. Bantu aku. Cukupkan rezekiku. Bismillah. Engkau Maha Kaya Ya Rabb".


Hanya itu yang mampu saya ucapkan kala itu. Semua dana darurat dan uang gaji kala itu terkuras. Dan tersadar bahwa hanya ada uang warna ungu alias sepuluh ribu di dompetku. 


"Alhamdulillah Ya Rabb. Masih tersisa sepuluh ribu di dompet. Hari masih panjang untuk menempuh akhir bulan. Namun aku percaya bahwa Engkau Maha Kaya. Rezekiku tak hanya berupa nominal saja. Pasti Engkau cukupkan padaku rezeki hari ini, sebulan ke depan hingga akhir hayat kelak. Terimakasih atas nikmat hati yang tenang dan senantiasa bersyukur meski sejatinya hanya punya sepuluh ribu di tangan. Sungguh,  Engkau Maha Kaya Ya Rabb. Ya Rabb, aku pengen makan enak dari biasanya. Sate ayam atau apa gitu loh Ya Allah. Tapi uangku sepuluh ribu. Gpp Ya Allah. Engkau yang punya sate ayam. Engkau Maha Kaya. Pokoknya aku mau sate ayam".


Gumanku kala itu sambil merem dan pegang uang sepuluh ribu di dompet. 


Tak butuh waktu berhari-hari Allah kabulkan do'a spontan saya. Beberapa menit setelah saya pandangi uang di dompet, tetiba HP berdering. Ada yang chat saya minta dibeliin sate dan sekaligus untuk saya. Jadi aku dapat sate ayam free.


Dan tak lama juga, banyak chat masuk nanyain stok madu. Bukan hanya satu dua orang saja, tapi banyak orang. Madu belum juga terkirim, ada yang beli kurma, salad dan juga lainnya. Hari itu rezeki datang tak disangka. Allah datangkan bebarengan.


Tiap hari semenjak kejadian sepuluh ribu itu, selaluuuuuuu adaaaa saja rezeki tak terduga. Ada yang tiba-tiba memberi saya amplop. Ada yang tiba-tiba memberi saya makanan enak-enak. Ada yang tiba-tiba memberikan buah-buah enak. Dan masih banyak rezeki yang tak mampu saya sebutkan satu per satu.


Sebulan penuh semenjak sepuluh ribu hingga akhir bulan datangnya rezeki via gajian, Allah full cukupkan. Bukan sekedar cukup, tapi turah-turah, melimpah ruah, full barokah.


Saya sampai malu. Malu jika saya tak mampu bersyukur. Malu jika saya masih banyak maksiat. Malu jika masih tak mampu berbuat kebaikan.


Sungguh. Kasih sayang Allah itu luar biasa. Kuasa Allah itu luar biasa. Matematikanya Allah itu tak bisa dilogika. Benar-benar diluar nalar manusia.


Saya bisa menulis cerita ini, kerana karunia-Nya. Tak mungkin saya bisa berbagi cerita ini jika saya tak mengalaminya.





Surabaya, kota dengan sejuta cerita.

Read More

Saturday, August 21, 2021

Free Ongkir Jadi Pembuka Rezeki

Mbak, ongkirnya berapa? 

Mbak, free ongkir yaa. 

Mbak, mau diskon donk. 

Mbak, nggak boleh kurang ta? 

Dan seabreg perkataan lainnya sering melayang ke telinga saya. Dan saya pun akan menanggapi dengan baik, terkadang tak ajak bercanda malahan. Hayooo siapa yang pernah demikian ke saya? Hehe. Nggak papa. Ini merupakan bagian dari fase kehidupan. Woles aja. 


Biasanya saya melihat jarak tempuh, jumlah pesanan, dan lainnya yang saya buat untuk pertimbangan ongkir. Jadi nggak sembarangan saya ngasih free ongkir ya. Nanti saya bisa guling-guling di jalan.


Tapi terkadang saya itu iya iya aja untuk ngasih free ongkir. Dan dengan demikian, malah orderan makin lancar kayak air hujan yang ngalir deras. Ada saja cara Allah itu menitipkan rezeki ke saya dengan cara tak terduga. 


Tiba-tiba ada orderan ojek pribadi, dipanggil dan dibooking untuk pagi dan sore. Itupun diluar jam kerja. Pernah juga itu saya dikasih ongkir lebih buanyaaakk dari harga yang sesuai aplikasi grab. Pernah juga saat kirim barang, dikasih makanan untuk beberapa hari. Dan banyak hal lainnya yang pernah saya alami.


Ketika saya hanya memberikan free ongkir, Allah berikan nikmat dan rezeki berlipat yang tak terduga.


Itulah salah satu hal yang bisa saya ambil dari kisah saya pribadi. Penting hatinya ditata, niatkan ibadah dan juga ikhlasnya terus dijaga. Ya, ini reminder bagi saya pribadi dan semoga keep istiqomah untuk berada pada jalan kebaikan. 


Bagi saya, jualan itu bukan tentang untung dan rugi saja. Apapun jualannya, penting halal dan berkah. Harapan saya, dengan jualan saya itu bisa bantu banyak orang. Siapa tahu hal tersebut menjadi wasilah kebaikan saya di hari Akhir kelak.

Read More

Monday, August 2, 2021

Hari Ini

26 Juni 2021 adalah jadwal ujian yang tertera pada kartu billing pembayaran kuliah di kampusku. Sekian lama saya menunggu, tibalah waktunya. Qodarullah ada PPKM dan akhirnya diundur hingga PPKM selesai.


Kemarin, 2 Agustus 2021 10:56 ada pemberitahuan bahwa ujian akhir akan dilaksanakan pada tanggal 3 - 9 Agustus 2021. Salah satu persyaratannya adalah menyertakan hasil swab negatif.


HAH. SWAB!!!


Ya Rabb. Aku harus keluar uang untuk swab?


Alhamdulillah. Gpp Dwi. Selama ini mobilitasmu tinggi. Semoga negatif ya.


Bismillah. Saya nyari tempat swab. Muter-muter di sekitar tempat tinggalku. 1 2 dokter, klinik saya datangi. Nihil. Tidak ada yang bisa melayani. Mau ke lab parahita/pramita/dll itu setahuku pelayanannya gak sampai malam untuk swab.


Disitulah saya mulai berfikir keras bagaimana saya bisa swab. Menjelang magrib, saya sempatkan untuk beli sate ayam dan jus jambu. Makan yang enak biar saya lebih tenang. Padahal biasanya makan nasi sama telur udah enak. Kali ini sedikit lebih enak lah.


Setelah saya makan, lanjut ke LAB yang pernah didatangi teman saya kala itu. Berangkatlah saya kesana. Pas jam 18.00.


Alhamdulillah masih bisa melayani swab antigen. Akhirnya bisa duduk tenang sembari menunggu panggilan. Untuk swab antigen, saya harus merogoh kantong sebesar 200juta. Eh 200ribu gais.


Setelah jadwal swab, saya menunggu hasilnya keluar. Sembari menunggu, saya langsung flu gegara kelamaan di ruang ber-AC. Maklum, anak seperti saya cocoknya dibawah kipas dan terik matahari.


Dwi Andayani.


Ah, akhirnyaaaa keluar juga hasilnya. NEGATIF. Yes. Aku negatif. Legaaaa banget rasanya.


Hari sudah larut malam. Aku langsung pulang. Bersih diri. Menyiapkan untuk ujian besok dan tidur lebih awal.


Jas almamater kampus yang ada noda dikit, tak cuci lalu tak kipasi. Tas yang berisi perlengkapan ujian juga sudah ready. Waktunya berselancar di alam mimpi. Yeaaayy.


Senang rasanya bisa terbangun dan lekas ujian akhir ke kampus. Eh, pas ngecek HP ternyata ada hadiah spesial yang tak terduga loh untukku.


Peserta UOTAP Kota Surabaya,

Terkait PPKM Level 4 lanjutan, ujian tgl 3 - 9 Agstus 21 akan ditunda sementara wkt.

Info selanjutnya tunggu di web UT SBY


HAH... DITUNDA!!!

Astaghfirullah... Alhamdulillah aku belum berangkat ke kampus. Alhamdulillah semoga uang 200juta ku yang kemarin Allah berikan rezeki lain yang berlipat.


Kecewa? Iyalah. Saya itu manusia biasa yang pastinya punya rasa kecewa. Namun saya harus mengendalikan semua. Tak semua rasa kecewa harus diungkapkan dan disebarkan agar semua orang tahu. Eh, ini semua tahu ya jadinya. Haha.


Ya maksudku kecewa boleh, tapi jangan lama-lama, jangan berlarut-larut, itu tidak baik.


Saya mau marah pun, marah pada siapa? Hehe. Kan saya termasuk orang yang terdzolimi bukan? Nah, akan lebih baik saya berdo'a yang baik-baik saja, agar do'a baik tersebut kembali ke saya. Loh. Hehe. Bukankah demikian?


Terkait 200ribu yang saya keluarkan untuk swab itu, saya yakin pasti Allah akan menurunkan rezeki yang berlipat dan tak terduga nantinya. Wong saya ini bukan siapa-siapa. Saya ini tidak punya apa-apa. Hanya Allah yang punya segalanya. Jadi saya percaya pada Allah bahwa ini memang sudah jalan saya.


Selama ini mobilitas saya tinggi. Menjadi kurir Surabaya - Sidoarjo. Kesana kemari tanpa pernah tes swab. Pada akhirnya kemarin swab dan hasilnya negatif. Segala Puji bagi Allah yang telah melimpahkan nikmat sehat dan kuat pada saya. Bersyukur banget bisa tahu kondisi diri sendiri yang sehat. Coba kalau saya positif, Naudzubillah. Pasti bakal lebih banyak biaya yang akan saya keluarkan nantinya.


Dwi. Tetaplah bersabar dan ikhlas yaa. Insyaa Allah, Allah cukupkan rezekimu untuk hari ini, esok dan kemudian. DUA RATUS RIBU yang kamu keluarkan kemarin, anggap saja check up kesehatanmu yang selama ini mobilitasnya tinggi. Oke. Yook kita semangat lagi menjemput rezeki. Dwi pasti bisa. Dwi pasti kuat. Dwi pasti semangaaatt.



Nulisnya sambil meronta-ronta. Gegara teman sekamar saya. Qorry Aini orang yang paling hiihh. Haha


Dwi Andayani

Surabaya, 3 Agustus 2021

Read More

Saturday, June 27, 2020

Mari Menepi Sejenak

Mari Menepi Sejenak

Pernah ku dapati sebuah keluarga yang nampaknya sangat bahagia sekali. Seorang istri yang selalu menampakkan kebahagiaan. Suami yang siap siaga membantu sang istri kapan saja dibutuhkan. Dan juga kedua orang tua yang gigih bekerja meski sudah lanjut usia.

Sebut saja namanya Mawar. Kerjaan utamanya adalah berdagang. Dan omset yang tiap hari ia dapatkan bisa ratusan ribu bahkan jutaan. Ia pun dikenal seorang yang dermawan.

Beberapa waktu lalu aku silaturahim ke rumahnya. Dan rumahnya itu terbilang luas untuk ukuran di kota besar. Dianggap orang ‘punya’ lah kalau di kota besar. Dan baru selesai dibangun beberapa waktu lalu.

Dan ternyata, suaminya tidak bekerja. Maka tak heran jika aku selalu menjumpainya membantu Mawar tiap harinya. Suaminya sudah beberapa tahun yang lalu resign dari sebuah perusahaan dikarenakan merawat orang tuanya yang sedang sakit.

Sejak orang tuanya suami sakit itulah, sang suami merawat dan menggantikan posisi ayahnya yang memiliki sebuah toko. Ia membantu jualan, tapi tak mendapatkan sepeserpun penghasilan. Jadi penghasilan utama tetap dari dagangannya.

Dibalik omset jutaan itu, ternyata anaknya Mawar mengidap penyakit yang hingga kini belum ditemukan obatnya. Dan ia harus rutin cek ke dokter dengan biaya yang tak cukup murah.

Lalu, kedua orang tua mawar yang sudah lanjut usia kenapa masih bekerja? Karena ia tak ingin merepotkan Mawar, si anak satu-satunya. Padahal si bapaknya sudah beberapa kali masuk Rumah Sakit dan si ibunya juga pernah stroke. Hingga sekarang si ibu berjalannya tidak sempurna karena stroke tersebut.

Kedua orang tua Mawar sebenarnya orang kaya harta. Ratusan juta uang melayang begitu saja karena dimanfaatkan orang yang tak bertanggung jawab. Rumah dan asset lainnya raib begitu saja tak bersisa.

Waktu masih kaya, sudah berkali-kali Mawar mengingatkan ibunya untuk tidak mudah meminjamkan uang kepada siapapun. Akan tetapi ibunya tetap saja meminjamkan uangnya. Karena pada dasarnya si ibu memiliki rasa iba yang sangat tinggi sama orang sekitarnya.

Pernah ada orang yang berhutang puluhan juta, hingga sekarang uangnya tak dikembalikan sepeserpun. Lalu apa yang terjadi pada orang tersebut? Ia diusir dari rumahnya oleh suaminya.

Itu baru satu kisah, masih banyak kisah terkait hutang yang tak dibayar hingga saat ini. Namun, si ibu tak bisa menagih. Kalaupun ditagih, tau sendiri kan orang +62 itu kalau ada yang nagih hutang malah kayak serigala berbulu kucing.

Nah, jadi sekarang si ibu hidup apa adanya. Di kosan yang cukup untuk berdua dengan suaminya. Sedangkan Mawar menempati rumah yag sudah dibangun susah payah dengan suami dan kedua anaknya.

Saat ini, Mawar sudah tak lagi berdagang seperti biasanya. Karena adanya pandemi covid19 ini yang menghentikannya. Biasanya ia berdagang kala anak sekolah masuk, jika tidak ada anak sekolah maka ia sudah tak lagi bisa menjajakan dagangannya.

Kini ia membuka peluang usaha baru di depan rumahnya. Berjualan makanan yang hasilnya tak seberapa, tapi lumayan bisa untuk bayar biaya listrik, katanya. Semoga laris, lancar dan berkah usaha dan rezekinya ya, bu Mawar. Aamiin.

Oh iya, aku selipkan lagi satu kisahnya. Di depan rumahnya ada sepetak tanah yang sengaja dibangun untuk disewakan. Kala itu ada seseorang yang ingin menyewa untuk dijadikan sebuah apotik, katanlah namanya Melati. Berapa biaya sewaya? Bu Mawar tak mematok harga. Terserah si Melati memberi uang berapa.

Berhubung apotiknya masih baru, si Melati tidak bisa membayar banyak untuk kontrakannya itu. Bu Mawar tidak keberatan dengan semua itu. Istilahnya bayar seikhlasnya. Mungkin seperti itu prinsipnya.

Di atas itu, secuil kisah yang hingga kini masih terekam dalam ingatanku. Tak mampu aku berkata apa-apa ketika bu Mawar menceritakan semua. Mulut terkunci, mata terpana dan hati menangis. Entahlah apa yang aku rasakan saat aku mendengarkannya.

Bu Mawar adalah salah seorang yang Allah hadirkan padaku untuk senantiasa bersyukur setiap waktu. Mengajariku bahwa sebanyak apapun harta di dunia yang kita miliki, sejatinya kita hanya dititipi. Semua bisa Allah ambil dalam sekejap mata tanpa menunggu waktu yang lama.

Seseorang yang ikhlas membantu sesama meski dirinya berada dalam kesusahan juga. Tak menampakkan kesedihan yang mendalam atas apa yang menimpa. Tetap dermawan meski dilanda kesusahan.


Ah, aku tak mampu menyebutkan semuanya -_-
Terima kasih bu Mawar
Terima kasih Surabaya yang kaya akan sejuta cerita


Surabaya, 27 Juni 2020
Read More

Thursday, April 30, 2020

Kesalahan Berbuah Kebaikan (?)

Tulisan ini isinya bakal agak nyleneh loh ya, nggak pas banget gitu judul sama isinya, jadi jangan kaget. Ya mohon maaf, aku hanya sekedar bererita apa adanya. Belum biisa menuliskan dengan apik sedemikian rupa.

Jadi, ceritanya itu tahun 2019 lalu aku pesan makanan lewat Go Food. Dan salah satu langgananku adalah ayam geprek yang lengkap ada jamur enoki plus tahu sutra. Mantul deh pokonya. Dan perlu diketahui, aku bakal order lewat Go Food kalau ada potongan harga. Hahaha. Maklum lah ya, anak kos emang suka gitu.

Nah, seingatku saat itu minimal pembelian adalah 25.000. Lalu harga nasinya nggak sampe 25.000 terus akhirnya kerupuk lah yang jadi penggenapnya. Yes, Alhamdulillah akhirnya dapat potongan 15.000 donk. Dasaarr anak kos.

Ini orderanku ke-sekian di warung tersebut. Nah, ketika orderan makan sudah sampai di tangaku, aku nggak langsung ngecek. Eh, ternyata kerupuknya nggak ada. Yah aku sedikit gimana gitu awalnya. Tapi akhirnya aku bilang gini pada diri sendiri, “Oh, mungkin bapak drivernya buru-buru atau si pemilik warung lupa masukin krupuknya. Gpp deh, hanya krupuk aja kan”. Alhamdulillah aku jadi tenang donk, nggak memikirkan krupuk lagi. Hehe.

Aku ngundang teman sebelah kamaar untuk bantu menghabiskan. Karena porsinya bagiku sangat berlebih jika aku makan sendirian. Eh, pas aku makan tiba-tiba ada notif WA tapi aku abaikan sampai aku selesai makan donk. Terus pas aku buka, ternyata ada chat dari si pemilik warung yang barusan aku orderin makanan tadi. Bapaknya bilang kalau krupuknya ketinggalan dan aku disuruh mengingatkan lewat chat ketika aku order lagi ke warung tersebut.

Masyaa Allah. Tabarakallah. Nggak nyangka aja bapak pemilik warung tersebut bakal ngge-chat aku. Semoga makin lancar dan berkah ya pak usaha dan rezekinya. Salut banget sama beliau. Meski hanya sebuah krupuk seharga 3ribuan yang tertinggal, ia tetap menyampaikan ke tuannya. Sebab bagaimanapun itu tetaplah hak sang pembeli.

Dan benar, orderan selanjutnya aku menyampaikan ke beliau tentang kerupuk yang tertinggal. Alhamdulillah kerupuknya beneran dimasukkan ke orderanku. Terima kasih banyak ya pak.

Sekian lama tidak kontak, dengan beliau, awal April 2020 ini beliau chat saya untuk mengajak berbisnis. Hiyaa, bau-bau bisnis mah aku paling demen. Oke, lanjut. Eh, waktu itu kan bapak-bapak ya yang ngechat, Alhamdulillah ini gentian istrinya yang ngechat. Hehe. Jadi amaann. Alhamdulillah. 

Beliau nawari barang dagangannya dan mau ambil barang daganganku. Jadi saling kerja sama gitu.
Aku kan seringnya order lewat Go Food, nah kali ini aku langsung datang ke warungnya. Masyaa Allah, rasanya seneng banget gitu punya teman baru, kenalan baru. Hehe. Apalagi seorang pedagang, kan aku jadi semangat untuk berdagang. Hehe. Ngikut Sunnah Rosul, kan salah satu pintu rezeki itu lewat berdagang bukan?

Nah, silaturahim pertamaku, aku ngambil pesanan customer. Lalu silaturahim ke-2 aku nganter pesenan beliau. Dan pertemuan itu hanya sekedar transaksi saja tanpa ada obrolan panjang.

Ini nih, malam itu aku lagi pengen banget pentol bakar dan beliau juga jual. Akhirnya ke-3 kalinya aku silaturahim ini aku benar-benar bisa ngobrol diluar transaksi dagang. Ibunya itu ngejualin aku, bakarin pentol sambil ngobrol sama aku.

Ngobrol mulai keluarga, domisili, anak, pernikahan, pekerjaan dan masih banyak lagi. Dari pentol disunduki sampai benar-benar matang, rasanya waktu masih kurang untuk berbincang. Haha. Semoga lain waktu bisa mmenyambung silaturahim lagi.

Setelah dari warung tersebut, aku jadi terinspirasi buat menuliskannya. Ya siapa tahu suatu saat nanti aku bisa menceritakaannya pada anak-anakku. Haha. Meski tulisannya masih amburadul kayak gini.

Biar lebih ingat betul aku tulis namanya deh. Pak Agus dan bu Tasya pemilik warung Ayam D’Bakar Keputih. Hehe.

Aku nggak nyangka aja Allah pertemukan aku dengan mereka. Hanya gegara kerupuk saja bisa menyambungkan silaturahim. Dan aku makin banyak belajar dari kisah-kisah kehidupan orang-orang.

Ketidaksengajaan ini terjadi atas ijin Allah. Aku sangat bersyukur atas semuanya. Alhamdulillah. Semoga akan ada episode silaturahim selanjutnya.


Surabaya, 1 Mei 2020
Dianda Avicenna
#EdisiRamadhan #Silaturahim #GegaraKrupuk  

Read More

© Seberkas Cahaya, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena