Showing posts with label Karya. Show all posts
Showing posts with label Karya. Show all posts
Sunday, April 16, 2017
Thursday, February 4, 2016
Menulis
Menulis
Dulu hanya sebuah khayalan untuk
jadi seorang penulis. Bagaimana tidak? Aku saja tak pernah membacaa, apalagi
menulis. Itu hanya fiktif belaka. Angan-angan semata. Bercita-cita menjadi
penulis tapi tak pernah menulis. Jangan ngarep euy.
Sekarang aku memiliki tekad untuk
jadi penulis. Semoga semangat di awal ini bisa terus tumbuh mengakar sampai
akhir hayat. Aku hanya mampu berusaha, berdo’a dan yakin bahwa Allah itu Maha
Kuasa. Menulis. Menulis. Menulis.
Menulis. Sebuah kegiatan yang
saat ini sedang aku tekuni. Walaupun masih otodidak. Masih belum mengenal cara
menulis yang baik dan benar. Awal menulis itu masih merasa ada rasa malas.
Namun, rasa itu harus segera ditebas. Memaksakan untuk menulis. Mood tidak mood harus tetap nulis. Jika sudah biasa menulis nantinya akan
menjadi terbiasa. Jika sudah terbiasa akan menjadi kebiasaan. Iya kan?
Saat ini aku benar-benar belajar
dari nol. Sama sekali belum mampu mengolah kata-kata yang mantab dibaca.
Tulisanku hanya perkataan hatiku tanpa aku mengubahnya sedikitpun. Aku memang
harus banyak-banyak belajar menulis. Yang nantinya pasti akan ada perubahan
tulisan jika menulis sudah menjadi kebiasaan.
“Menulislah, apapun, jangan pernah
takut tulisanmu tidak dibaca orang, yang penting tulis, tulis, dan tulis. Suatu
saat pasti berguna,” Pramoedya Ananta Toer.
“Hari ini adalah masa lalu masa
datang, tulislah hari ini untuk masa depan,” Ncuhy Dongo.
“Tulis sekarang atau Anda
melupakan selamanya,” Sangaji Mbojo.
“Karena kau menulis, suaramu tak
akan padam ditelan angin, akan abadi sampai jauh, jauh dikemudian hari,”
Pramoedya Ananta Toer.
“Menulislah untuk keabadian,”
Bang Syaiha.
Itu beberapa motivasi yang
menguatkanku untuk menulis. Apapun itu akan aku tuliskan. Karena aku yakin
suatu saat pasti akan bermanfaat. Allah Maha Tahu atas segala sesuatu. DIA lah
yang tahu isi hatiku.
#SemangatMembara
#FebruariMembara_Day5
#OneDayOnePost
Wednesday, February 3, 2016
Menggenggam Matahari
Menggenggam Matahari
Menggenggam matahari. Sebuah
inspirasi untuk menggapai mimpi. “Beranilah bermimpi besar karena matahari yang
besar dan panas itu mampu kugenggam dengan tanganku,” kata Danang A.Prabowo.
Istilah itu kudapatkan dari video yang pernah diberikan padaku dari Forsmawi
(Forum Silaturrahmi Mahasiswa Ngawi). Dari situlah aku berani bermimpi.
Dan aku semakin yakin dengan
kekuasaan Allah. Hingga membuatku semangat Lillah. Walaupun sesungguhnya kakiku
telah lelah. Semua kutepiskan dengan mengingat perjuangan Rasulullah. Beliau
yang tak pernah lelah untuk berdakwah.
Waktu itu aku tidak diterima di
sekolah Negeri. Awalnya memang sedikit sakit hati. Namun ku ingat ini adalah
jalan terbaik dari Sang Illahi. Aku harus sadar diri. Aku yakin bahwa Allah
akan memudahkan langkaah kaki ini. Aku pun sekolah di PGRI.
Walaupun sekolah di PGRI, setelah
lulus sekolah pun aku ingin melanjutkan kuliah ke Perguruan Tinggi Negeri.
Sulit memang untuk bersaing dengan anak-anak yang sekolah di Negeri. Namun, aku
tetap memberanikan diri.
Ujian masuk PTN aku ikuti. Namun
tak ada satu pun yang kudapati. Aku harus bagaimana lagi? Aku tak perlu
pusing-pusing memikirkan ini. Aku minta saja pada Sang Illahi. Semoga DIA
tunjukkan jalan untuk diri ini.
Disela-sela penantian itu aku
sempatkan untuk mecari info-info kuliah di swasta. Tak ada satu pun yang aku
suka. Aku minta teman-temanku di Surabaya untuk mencarikan kerjaan. Alhamdulillaah
ada satu tempat yang sedang membutuhkan karyawan. Besoknya ada surat undangan
dari ITS, menyatakan baahwa aku diterima kuliah disana.
Subhanallah. Alhamdulillah. Dua
nikmat sekaligus Allah berikan padaku. Mimpi-mimpi itu tak pernah luput dari
pelupuk mataku. Semenjak itu aku bisa belajar bagaimana menghargai waktu.
Belajar untuk berprasangka baik pada siapapun.
Yuuuk berprasangka baik pada siapapun :)
Tuesday, February 2, 2016
Modem
Modem
“Maka nikmat Tuhanmu
yang mankah yang kamu dustakan?”
QS.Ar-Rahman:55
Sepulang kerja aku menyibukkan
diri mencari recehan uang di kamar. Mataku kubuka selebar layar. Kesana kemari
belum kutemukan sekeping pun yang terlantar. Lantas uang dari mana aku mampu membayar?
Jantung pun semakin berdebar. Ah, bagaimanapun aku harus mencari dan membayar.
Kuperbanyak membaca Istigfar.
Aku mencari dalam saku jaket,
dompet, dan tas. Berkali-kali aku membukanya. Namun belum kutemukan tanda-tanda
kehidupan (red:keberadaan uang). Sebenarnya masih ada waktu esok, tetapi aku
bersikeras untuk menebusnya sekarang.
“Di tas gak ada. Di jaket gak ada. Alhamdulillah di dompet masih ada,
tetapi tetap saja masih kurang. Aku harus mencarinya dengan kesabaran. Jangan
sampai aku mencarinya dengan emosi yang meledak-ledak,” Gumanku dalam qalbu.
Modem oh modem. Uangku masih
kurang untuk menebusmu. Aku baru membayarnya separuh. Ya Allah bukakanlah pintu
rezekimu untukku. Gumanku dalam qalbu.
Seketika itu Allah jawab do’aku.
Allah pertemukan aku dengan uang yang terselip dalam sakuku. Sebenarnya aku
sudah membuka saku jaketku. Mungkin aku tadi mencarinya dengan emosi jadi tak
ketemu.
Modem sudah jadi milikku. Hal
yang pertama kali kubuka saat koneksi internet tersambung adalah membuka blogku. Ah, rasanya senang sekali
sekarang sudah tak merasa dikejar-kejar waktu. Biasanya pulang kerja nulis
sampai malam hingga terkantuk-kantuk. Paginya melanjutkan atau membaca ulang
sampai berangkat kerja. Sampai tempat kerja lari-lari ke kantor cari koneksi
internet dan pinjam PC untuk ngepost.
Terkadang kalau koneksinya ada gangguan, terpaksa pulang kerja mampir dulu di
warnet terdekat hanya untuk posting saja. Sekarang, Alhamdulillah Allah berikan
kemudahan. Allah memberikanku hadiah spesial yang sudah lama aku idam-idamkan.
Memiliki modem sendiri tanpa harus merepotkan.
Setelah membeli modem kulihat
kantongku. Kosong. Hanya ada uang 2000 saja. Aku hanya pasrah. Yakin bahwa
Allah pasti akan membukakan pintu rezeki untuk esok hari. Bismillah. Allah Maha
Kaya. Aku tak akan pernah takut kekurangan harta. Hanya dengan sholawat dan
mengingat-NYA lah aku menjadi tenang.
Jawaban atas keyakinanku itu
benar adanya. Pagi-pagi di tempat kerja ada yang beli pulsa. Alhamdulillah. Siangnya
dapat tambahan dari jual kardus. Sungguh nikmat Allah itu tak pernah berhenti mengalir
sedetik pun.
Monday, February 1, 2016
Keluarga Khoir part 2
Ibu Pilih Mana?
“Ibu menginginkan hafalanku bertambah hingga
30 juz atau ingin menghilangkannya? Kalau mama ingin hafalanku bertambah dan
bisa sekolah, Aisy ingin melanjutkan ke
SMPIT Al Uswah saja. Aisy tidak mau ke SMP negeri atau swasta lainnya…”
Saat ini Aisyah duduk di kelas VI
SD. Bapak dan ibunya menyodorkan beberapa daftar sekolah untuk Aisyah. Dari
daftar sekolah yang ditunjukkan Aisyah itu tak ada satu pun yang ia minati.
“Lalu, kemana nak pilihanmu? Tunjukkan pada ibu dan bapakmu,” Jelas ibu.
“Ibu menginginkan hafalanku bertambah hingga
30 juz atau ingin menghilangkannya? Kalau ibu ingin hafalanku bertambah dan
bisa sekolah, Aisy ingin melanjutkan ke
SMPIT Al Uswah saja. Aisy tidak mau ke SMP negeri atau swasta lainnya. Itu
pilihan Aisy bu. Aisy direkomendasikan guru BK untuk ke Negeri tapi aku tetap
pilih Al Uswah bu.”
Seketika itu bu Khadijah memeluk
Aisyah erat-erat. Ia pun tak mampu membendung air mata. Ia menangis bahagia
melihat anaknya begitu antusias dengan pilihannya.
“Kamu memang sudah bisa memilih, nak. Ibu sangat bangga denganmu.
Apapun yang Aisy minta pasti ibu beri, nak. Sekolah dimanapun akan ibu biayai.
Semangat yaa nak. Semoga Allah meridhoi dan mengabulkan apa yang nak Aisy
inginkan,” Kata bu Khadijah (memandang Khadijah dan berkali-kali air matanya
jatuh).
“Ibu, Aisy juga terima kasih pada ibu. Karena ibu sudah memilihkan
tempat menimba ilmu yang sangat tepat untuk Aisy. Disamping mendapat ilmu dunia, Aisy juga dapat ilmu
untuk bekal di akhirat. Aisy ingin memakaikan mahkota untuk ibu dan bapak di
syurga kelak. Aisy ingin jadi Hafidzah,” Sahut Aisy sambil tersenyum.
“Nak…” (memeluk Aisy).
Aisyah memang salah satu anak bu
Khadijah yang memiliki hafalan terbanyak. Hal itulah yang membuat Ahmad dan Fatimah
ingin mengghafal dengannya karena di sekolah mereka tak ada program hafalan.
Setiap selesai sholat shubuh mereka menghafal dan memuroja’ah ketika selesai
sholat magrib. Aisyahlah yang menjadi penyimaknya. Abdullah pun tak kalah, ia
juga semangat menghafal. Tentram hati bu Khadijah dan pak Khoir mendengar
mereka melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an.
---------------------------------------------------------------------
Semoga secuil kisah di atas bisa menjadi motivasi untuk kita semua terutama orang tua :)
Thursday, January 28, 2016
Keluarga Khoir Part 1
Keluarga Khoir Part 1
“Ibaratnya kita
mengajukan proposal ke Allah untuk di ACC. Jika belum di ACC kita harus
bersabar dan berusaha memperbaiki proposal tersebut. Mungkin masih ada
kekurangannya. Berulang-ulang mengirimkan proposal hingga di ACC itu butuh
perjuangan. Tidah hanya sekali dua kali.
Itulah hidup,”
Kata pak Khoir kepada
istrinya dengan tegas.
Dalam
rumah tangga itu harus saling menguatkan. Saling menutupi kekurangan
masing-masing sehingga tidak merasa bahwa dirinyalah yang paling hebat. Selalu
tawakal dan tawadu’ dalam segala hal. Mengkomunikasikan segala sesuatu dengan
bermusyawarah. Itulah yang pak Khoir dan bu Khadijah tanamkan sejak mereka memutuskan
untuk mengarungi bahtera kehidupan rumah tangga bersama. Mencetak generasi yang
berakhlak mulia. Yang mampu menjadi penyelamat keluarga saat di akhirat.
Pak
Khoir adalah lulusan Sarjana Teknik sedangkan bu Khadijah lulusan SMA. Pak
Khoir menikahi bu Khadijah karena agamanya. Baik budi pekertinya. Dan tentunya
atas dasar cinta karena-NYA. Itulah yang Allah tetapkan untuknya. Hingga pak
Khoir pun tak pernah memandang istrinya itu lulusan apa. Ia meyakini bahwa
istrinya mampu menjadi pendidik yang baik untuk anak-anaknya.
Bertahun-tahun
lamanya mereka mengarungi bahtera kehidupan rumah tangga. Hingga kini mereka
dikaruniai 4 anak yang sholih-sholihah tentunya. Siapakah diantaranya?
Ahmad, anak pertamanya. Sembilan belas tahun usianya. Saat ini duduk di bangku SMA kelas XII di Surabaya. Ia sosok yang jenius di bidang Fisika. Sehingga ia dijuluki pakar Fisika sejak SMP sampai sekarang.
Fatimah, anak keduanya. Lima belas tahun usianya. Si jenius yang jago Matematika. Karena jeniusnya, ia pernah menjuarai Olimpiade Matematika tingkat Nasional. Di kamarnya terdapat banyak penghargaan dan piala. Sekarang ia duduk di bangku SMP kelas IX. Setelah lulus ia ingin melanjutkan ke SMA yang ada bimbingan tahfidznya. Ia ingin seperti adiknya yang kini sudah memiliki hafalan banyak.
Aisyah, anak ketiganya. Sebelas tahun usianya. Si sholihah yang cita-citanya ingin menjadi hafidzah 30 juz. Kini hafalannya sudah 10 juz. Diantara saudaranya dialah yang paling banyak hafalannya. Sehingga membuat kakak-kakaknya ingin menghafal bersamanya. Ia jago dalam hal menulis. Ia pun pernah menjuarai lomba menulis puisi tingkat provinsi.
Abdullah,
anak terakhirnya. Tujuh tahun usianya.Sekarang duduk di bangku SD kelas satu.
Ia tak kalah dengan kakaknya. Ia telah hafal juz 29 dan 30. Targetnya lulus SD
sudah hafal 30 juz.
Wednesday, January 27, 2016
Tampang S2
Tampang S2
“Mbak S2 di ITS ya?”
Salah satu hal
yang menggelitik hatiku ketika aku bertemu dengan mahasiswa ITS yang belum
pernah kenal. Sudah berkali-kali aku menjawab pertanyaan yang sama. “Mbak, S2
disini (red:ITS) ya?”. Tarik nafas,
tahan, lepaskan. Eh, jangan lewat bawah loh ya (kentut donk). Itu salah satu caraku ketika aku ditanya hal itu. Tarik
nafas lalu tersenyum padanya.
“Mbak, S2 di ITS ya?”, tanyanya.
“Nggak mbk.” (Kaget,
mengerutkan dahi dan menahan tawa)
“Mbak kuliah
disini kan? Angkatan tahun berapa mbak?” (Dengan wajah tak percaya)
“Iya. Saya angkatan
2014. Mbak?”
“Oalah. Maaf ya mbak kirain
mbak S2 disini. Saya S2 angkatan 2014.”
Mereka
terssipu malu ketika aku menjawab bahwa aku baru lulus SMK tahun kemarin lalu
D1 di ITS. Akhirnya minta maaf kepadaku. Aku sendiri tak tahan menahan tawa.
Aku mencoba tersenyum saja.
Bukan nama
terlebih dahulu yang mereka tanyakan padaku. Tapi saat ini aku sedang menempuh
studi apa. Mungkinkah tampangku itu tampang S2 di ITS? Aaarrrggghhh. Hahaha.
Jangankan S2, S1 saja aku belum bisa J. Masih sedang
berproses menuju kesana (red: Kuliah
bukan nikah). Do’akan ya.
Terima kasih
atas do’anya. Ucapan kalian adalah do’a untukku.
Saat aku masih
SMK dikira aku sudah Mahasiswa. Dan akhirnya aku jadi Mahasiswa setelah lulus
SMK. Saat aku menempuh D1 dikira aku S2. Semoga do’anya terkabul. Aku bisa
melanjutkan S1 dan S2. JJJ
Jika bertemu
mahasiswa ITS ditanya hal itu. Lalu jika ditanya alumni pasti menanyakan,
“Mbak, sudah nikah?”. Hahaha. Pertanyaan yang tak pernah tertinggal. (Tutup mulut, tahan tawa). Aku hanya
menggelengkan kepala saja. (Anti BAPER).
Allah
sudah merajut benang-benang terbaik untukku.
Aku
percaya hal itu.
Cita-cita Masa Kecilku
Cita-cita Masa Kecilku
Foto bersama santiwan/i saat aku masih SMK kelas XI J
Aku yang mana yaa???
Sejak kecil aku ditanyai tentang cita-citaku ingin menjadi apa. Aku menjawabnya dengan semangat dan aku tak menghiraukan keadaanku. Guru. Ya, aku ingin jadi guru. Bagimana muridku bisa menerima apa yang aku sampaikan jika bicaraku masih begini? Bagaimana mereka memahami apa yang aku bicarakan? Ah, sudahlah. Kecacatanku tak menghalangiku untuk meraih sebuah cita-cita. Aku pasti bisa.
Waktu ke waktu terus berjalan. Beberapa tahun kemudian Allah menjawab cita-citaku. Menjadi guru ngaji di kampungku. Subhanallah. Aku inginnya setelah lulus kuliah nanti tapi Allah memberi saat aku masih duduk di bangku SMP. Aku memang tak meminta jadi guru ngaji, yang terpenting aku bisa merasakan jadi guru. Eh, ternyata Allah lebih cepat mengabulkan citaa-citaku.
“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”
Di usia yang masih belia itu aku dihadapkan pada anak-anak yang memiliki karakter yang berbeda-beda. Ada yang serin nangis, berantem, ramai sendiri ketika yang lain belajar, dan lain-lain. Dari situlah aku belajar sabar, belajar menghadapi anak-anak yang berbeda karakter.
Ada saatnya aku lembut dan ada saatnya pula aku harus tegas. Jadi guru itu juga harus bisa memahami kondisi dan karakter tiap anak. Kita pun bisa dengan mudah mengatur mereka.
Alhamdulillah Allah sudah mempertemukanku dengan mereka. Mereka yang gigih untuk bisa belajar membaca Al-Qur’an. Aku salut dengan perjuangan mereka. Walaupun hujan mengguyur semangatpun tak pernah luntur. Walau satu kilo jarak yang mereka tempuh tapi mereka tak pernah mengeluh. Kaki-kaki mungil itu mengingatkanku akan sebuah perjuangan. Terima kasih adik-adikku.
Semoga kalian tetap istiqomah dalam belaajar. Menuntut Ilmu dunia akhirat. Kakakmu disini hanya mampu mendo’akanmu. Sukses selalu untuk kalian. Dari kalian aku belajar kehidupan. Ilmu yang mungkin tak bisa kudapatkan ketika aku di luar kampung halaman.
Tuesday, January 26, 2016
KMDP Bukan KMGP
“Mbak Dwi, mbak Dwi, mbak Dwi” panggil salah satu siswa.
“Ada apa dek?” sahutku.
“Terus kenapa dek? Baru tahu yaa kalau mbak itu jail. Dari dulu kali
dek.”
“Eh, tapi kalau gak ada mbk Dwi sepi donk. Hhhmmm…”
“Kenapa dek?”
“Mbak Dwi jangan pergi ya. Kalau di film sekarang yang di bioskop itu
kan ada yang judulnya Ketika Mas Gagah Pergi. Nah, mbak Dwi jangan pergi loh
ya.”
“Loh memang kenapa dek kalau mbak pergi?”
“Nanti jadinya bukan KMGP tapi KMDP (Ketika Mbak Dwi Pergi), terus Al
Uswah jadi sepi. Tenang saja mbak nanti saya jadikan pemeraan utamanya ya, biar
terkenal.”
“Hahaha…kamu ini ada-ada aja dek. Ketika Mbak Dwi Pergi, Al Uswah jadi
sepi.”
Selalu
ada saja hal yang adik-adik perbuat padaaku. Mereka sering menggodaku untuk
tersenyum dan tertawa bersama mereka. Inilah salah satu yang membuatku tidak
bosan berlama-lama dengan mereka. Tak ingin meninggalkan mereka.
Terima
kasih adik-adik AL Uswah Surabaya. Tak terasa kita sudah setahun lebih bersama
disini. Kalian itu membuatku betah disini. Walaupun kalian itu sukanya
menggodaku. Tapi aku juga sering menggoda kalian. Hahaha. Semoga kalian bisa
menjadi generasi pemuda yang beriman dan berakal. Tentu baik budi pekerti dan
akhlaknya. Aamiin.
Kalian
bilang mbk Dwi ini baper gara-gara sering ditanya ‘kapan nikah?’. Nah loh, mbak
biasa saja kok dek. Mbak hanya tersenyum saja. Aku tahu mengapa kalian
menanyakan hal itu. Karena kalian ingin melihat mbak bahagia. Hahaha Alay.
@SMAIT Al Uswah
Surabaya
Sunday, January 24, 2016
Puncak Lawu
Berawal dari Puncak Lawu inilah aku berani bermimpi besar.
Sehari
setetelah Ujian Nasional dilaksanakan aku diajak teman-temanku untuk mendaki ke
Gunung Lawu. Tanpa persiapan fisik sama sekali. Biasanya sebelum mendaki itu
harus mempersiapkan fisik terlebih dahulu dengan olahraga agar badan bisa fit.
Yang persiapan saja biasanya belum tentu sampai puncak apalagi yang tanpa
persiapan. Aku sama sekali tak memikirkan hal ini waktu itu. Yang aku fikirkan
hanya aku bisa sampai puncak Lawu.
Aku
pernah menderita ashma. Biasanya kalau terkena hawa dingin langsung kambuh.
Tapi tetap saja aku nekad untuk berangkat mendaki. Alhamdulillah orang tua
mengijinkan karena di rombongan itu ada guruku. Dalam rombongan ada enam
laki-laki dan dua perempuan termasuk aku. Ah, rasanya seperti mimpi saja.
Saat
aku menenmpuh perjalanan aku meyakinkan diri bahwa aku bisa sampai Puncak Lawu.
Aku pasti bisa. Itu gumanku dalam hatiku dan aku tanamkan dalam otakku. Aku tak
akan menyerah untuk sampai di Puncak. Bismillah.
Hawa
dingin menusukk jantungku. Jantungku pun berdebar-debar ketika kakiku
menginjakkan di start pendakian. Ku
berdo’a dengan kepala menengadah ke langit. Semoga aku selamat sampai puncak
hingga kembali lagi disini. Kuatkanlah kakiku melangkah untuk menikmati
keindahan alam-MU dan kebesaran ciptaan-MU.
Langkah
demi langkah kaki ini meninggalkan start
pendakian. Jauh. Semakin menjauh. Kaki ini terasa ringan untuk melangkah.
Sejuknya hari itu membuatku semangat. Indahnya pemandangan itu membuatku tak
henti tersenyum. Ah, sungguh indah pemandangan yang Allah suguhkan padaku saat
ini. Yang menghiasi sepanjang perjalananku.
Di
sepanjang perjalanan itu terdapat beberapa pos untuk istirahat. Nah, untuk
menentukan seseorang itu bisa sampai puncak atau tidak itu ditentukan oleh
kondisi pada saat sampai di pos 2. Kalau wajah pucat dan tangan dingin, tidak
boleh melanjutkan perjalanan. Begitu sebaliknya. Alhamdulillah rombonganku
terlihat sehat-sehat saja. Mungkin ada sedikit rasa lelah yang menggelayuti. Akhirnya
rombonganku berhenti sejenak.
Sayup-sayup
terdengar suaara adzan dhuhur berkumandang. Kami pun melaksanakan sholat.
Walaupun mendaki itu menguras tenaga dan waktu, namun kewajiban beribadah harus
tetap dilaksanakan.
Di
tengah-tengah perjalanan ada temanku cewek (Danik) yang kelelahan dan ia perlu
digandeng tangannya. Sebaliknya dengan aku, aku terlalu bersemangat. Melangkah
lebih cepat dari teman-temanku cowok. Mereka ku tinggal. Ah, aku jadi lupa
dengan danik yang tengah berusaha untuk berjalan. Aku pun harus menemaninya.
Aku selalu menyemangati Danik bahwa kita mampu sampai puncak.
Perjalanan ini
memang butuh tenaga ekstra untuk bisa sampai puncaknya. Sesekali ia jalan lalu
berhenti lagi. Jalanan yang aku lalui saat itu seperti tangga. Ada bebatuannya
pula. Jika hujan pasti jalanan ini licin. Aku tak bisa membayangkannya.
Syukurlah hari itu tidak hujan. Sesekali aku mencari jalan pintas agar aku
sampai lebih awal dari teman-temanku. Karena kau tak suka yang biasa dilewati.
Selalu mencari sensasi baru diperjalanan.
Di sepanjang
perjalanan itu aku sering berpapasan dengan pendaki-pendaki lainnya. Mereka
membawa tas gunung dan sepatu khusus. Sedangkan aku hanya memakai sepatu cat
dan tas yang biasanya untuk sekolah. Wah, aku terlalu minimaalis saat itu.
Seperti main-main saja. tak senyumin aja ketika mereka melirik ke arahku.
Mereka juga membawa tongkat, aku tangan hampa. Rasanya seperti sudah ada yang
menuntunku sepanjang perjalanan. Alay
euy.
Hari sudah
semakin sore. Semburat senja begitu terlihat. Langit-langit memerah. Matahari
mulai tenggelam. Mata terpana melihat keindahan-NYA. Mulut ini tak
henti-hentinya bertasbih memuji-NYA. Gelap semakin gelap. Kemerlap lampu di
perkotaan terliahat begitu memukau. Cahayanya seperti bintang di langit.
Ternyata itu adalah gemerlap lampu kotaku. Ngawi tercinta.
Perjalanan
kurang 1 jam lagi sepertinya. Kaki ini mulai terseok-seok untuk melangkah.
Allah kuatkanlah langkahku. Pintaku dalam hati. Alhamdulillah cahaya lampu di
puncak mulai terlihat. Pertanda bahwa sebentar lagi akan sampai.
Yeah, akhirnya
sampai juga di salah satu warung yang berdiri di puncak Lawu. Disitulah aku
bermalam karena tidak bawa tenda pribadi. Kurebahkan tubuhku lalu mengambil
wudhu. Bbbrrr. Dinginnya benar-benar menusuk jantung. Dinginnya air di puncak
itu melebihi dinginnya air es. Setelah wudhu pun aku memakai jaket double. Pakai sarung tangan dan kaos
kaki double juga. Barulah aku
mendirikan sholat.
Saat tidur
tubuhku menggigil kedinginan. Guruku merelakan Slim Bag-nya tak pakai. Ah, aku jadi merasa merepotkan orang.
Alhamdulillah Allah menolongku.
Keesokan
harinya jam tiga sudah mulai bangun semua. Segeralah aku bersiap-siap menuju
puncak Lawu. Disana sudah banyak orang yang berkerumun untuk menyaksikan
terbitnya sang Surya. Satu hal yang tak pernah kulupa saat-saat perjalanan.
Mukena. Aku bersikeras membawanya walaupun terlihat ribet. Dan aku akan
mendirikan sholat shubuh di puncak Lawu.
Fajar telah
terbit. Subhanallah. Inilah pertama kalinya aku menyaksikan terbitnya fajar
dari ketinggian. Benar-benar merasakan kekuasaan-NYA yang luar biasa. Allah
Maha Besar. Sungguh seakan aku tak percaya bisa sampai puncak Lawu ini. Allah
Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Itulah
sekilas cerita perjalananku menuju puncak Lawu. Dari sinilah aku belajar. Dari
sinilah aku berani bermimpi besar. ‘Beranilah bermimpi besar karena matahari
yang besar dan panas itu mampu ku genggam dengan tangaku’. Itulah kata-kata
yang selalu ku ingat dari Danang.A Prabowo. Aku yakin, yakin, dan yakin pasti
BISA. Itu yang aku tanamkan dalam diriku. Karena yakin bahwa Allah bersama
selalu. Karena aku yakin bahwa Allah selalu menjawab semua do’aku.
Ini sebagian foto-foto saat aku di Gunung Lawu:
Ini sebagian foto-foto saat aku di Gunung Lawu:
Detik-detik terbit fajar
Terbit fajar
Sekitar puncak
Pekarangan bunga dekat warung
Jelajah puncak
Rumah botol
Negeri di atas awan
Apa
yang dapat kalian petik dari sekilas perjalananku???
Thursday, January 21, 2016
Belajar Kehidupan
Belajar Kehidupan
Di Surabaya ini
aku dipertemukan dengan orang-orang yang memiliki karakter dengan pekerjaan yang berbeda. Dan
pastinya caraku menyikapi mereka juga berbeda. Berbeda cara menyikapi bukan
bermaksud untuk membeda-bedakan. Tapi ini untuk interaksinya yang berbeda antara
aku dengan mahasiswa, pejabat, dan lain-lain. Disini saya berbicara dengan
petugas kebersihan, penjual gorengan, penjual nasi kuning, penjual es, penjual
mie, dan penjual-penjual makanan lainnya.
Tak kenal maka
tak sayang. Maka hal yang pertama kali ku lakukan ketika bertemu mereka adalah
berkenalan. Berawal dari nama hingga keluarga dan alamat rumah. Walaupun
terkadang aku tak tau pasti dimana alamat tersebut berada, aku pun dengan polos
mengiyakannya dan bertanya arah jalan kesana. Agar mereka tersenyum bahagia.
Dari
interaksi-interaksi dengan mereka itu aku dapat ilmu yang mungkin tak akan ku
dapatkan di bangku sekolah maupun kuliah. Apa itu? Ilmu kehidupan. Dari
merekalah aku belajar. Belajar bagaimana menjalani hidup dengan penuh
perjuangan.
Bapak petugas kebersihan.
Ia orang yang sabar. Tutur katanya lembut. Ketika anak-anak dengan tidak
sengaja menumpahkan air atau kotoran dengan sigap ia segera membersihkannya
tanpa berkata-kata. Ketika ia disuruh membantu angkat-angkat barang ia segera
bergegas. Ia selalu siap siaga ketika ia disuruh ini itu. Biasanya orang-orang
itu kalau dimintai bantuan selalu minta imbalan. Berbeda dengan bapaknya, ia
malah menolak jika diberikan imbalan. Kecuali jika itu gajian. Ia tak akan menolak.
Dari bapak itu
aku bisa belajar bagaimana kesiapsiagaan itu penting untuk hidup. Termasuk siap
siaga untuk bertemu dengan kehidupan selanjutnya yang kekal. Kehidupan di
akhrat.
Ibu penjual
gorengan. Senyumnya selalu menghiasi wajahnya. Ketika bertemu aku tak lupa cium
tangannya. Ia pernah membantuku banyak hal. Aku dapat ilmu rumah tangga ketika
aku mengenalnya. Ia pernah bercerita bagaimana membangun rumah tangga dan apa
saja yang ada di dalamnya.
Membangun rumah
tangga itu tak semudah telapak tangan. Ketika kita jalan terkadang kaki kena
duri, kesandung lalu jatuh, tiba-tiba memar, dan lain-lain. Begitu juga dengan
kehidupan, pasti ada duri jalanan yang menghadang. Kita harus bisa
menyingkirkannya pelan-pelan. Semua itu ada prosesnya. Mendengar cerita tentang
bagaimana membangun rumah tangga itu membuatku untuk benar-benaar mempersiapkannya. Terima kasih
ibu.
Ibu penjual nasi
kuning. Ia dikaruniai dua anak. Suaminya sudah meninggal tahun lalu. Sekarang
ia mencari rezeki dengan jualan nasi kuning, online shop, dan jualan seprei. Ia
pernah bercerita bagaimana kondisi suami beberapa hari sebelum meninggal. Ah,
aku jadi merasakan bagaiman ditinggalkan orang yang dicintai. Semoga Allah
berikan kemudahn ibu itu untuk bisa tetap menjalani kehidupan dengan mencari
rezeki yang halal untuk menghidupi anak-anaknya. Aamiin.
Oh iya, satu
lagi dari ibunya. Ia selalu mengatakan kepadaku bahwa seberapapun rezeki yang
kita dapatkan hari ini itulah rezeki yang sudah Allah tetapkan untuk kita. Yang
terpenting kita sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menjemput rezeki itu.Walaupun
nasi kuning ibu itu kadang tidak laku berarti Alhamdulillah ibu masih diberikan
kesempatan oleh Allah untuk bersedekah. Masyaa Allah sungguh pelajaran hidup
yang luar biasa.
Ibu penjual es.
Ia pernah bercerita kepadaku bahwa ia lulus SMA sedangkan suaminya sedang
menempuh S3. Ia mengatakan kepadaku bahwa sesungguhnya pekerjaan terbaik
seorang wanita itu adalah iu rumah tangga. Gaji terbaiknya adalah anak yang
sholeh sholehah. Namun bukan berarti wanita karir itu bukan wanita terbaik. Ia
tetap menjadi wanita karir sekaligus ibu rumah tangga. Karena dari rahim ibu
lah seorang anak lahir ke dunia. Ia yang mengandung, menyusi bahkan merawatnya
hingga besar. Allah tidak akan pernah memandang apa gelarmu, tapi bagaimana
pertanggunggjawabanmu atas kewajibanmu.
Itulah sedikit
dari pelajaran kehidupan yang pernah aku dapatkan. Masih banyak lagi dan perlu
belajar lagi dari orang-orang yang sudah makan garam. Sungguh aku saat ini
belum ada apa-apanya dari kehidupan mereka. Semoga sepenggal cerita itu bisa
kita jadikan pelajaran.
Jika hidup hanya sekedar hidup, kera di hutan pun juga hidup.
Karena hidup tak sekedar hidup.
Wednesday, January 20, 2016
Ibadah dan Ilmu
Ibadah
dan Ilmu
Ibadah dan ilmu. Sekhusyuk apapun seseorang beribadah
belum tentu ia ikhlas dalam melaksanakannya. Keikhlasan seseorang dalam beribadah
hanya Allah yang tau. Maka itu jangan pernah memvonis kekhusyukan ibadah
seseorang bahwa ia khusyuk atau tidak. Ibadah itu dilandasi dengan niat dan
hati yang ikhlas.
Ada seseorang yang ahli ibadah. Sholat lima waktu selalu
berjama’ah, puasa sunah tak pernah bolong, ahli tahajud, ahli dhuha. Tetapi ia
tak pernah baik dengan tetangganya. Ia merasa tetangganya tidak selevel dengan
dia. Ia selalu memvonis dia kafir, dia musyrik, dia tidak ikhlas, dan
lain-lain. Ia juga sombong merasa bahwa dirinyalah yang paling baik. Ia pun
kikir tak pernah menyantuni anak yatim dan fakir.
Semoga ia yang seperti itu segera dibukakan hatinya.
Diberikan hidayah oleh-NYA. Aamiin. Kita tidak tahu bagaimana kehidupan
seseorang dimasa depan. Kita tahu bahwa orang itu sekarang seperti itu lalu
beberapa tahun kemudian ia menjadi seorang yang sholeh. Jangan pernah kita
mengatakan bahwa orang tersebut akan masuk neraka. Karena kita tak tahu bahwa
pintu hidayah akan terbuka untukknya. Ketika kita melihat suatu kemungkaran atau
keburukan, berdo’alah yang baik-baik. Jangan lantas kita mendo’akan agar ia
terjerumus lebih dalam. Karena hal itu bisa jadi akan menimpa diri kita
sendiri.
Tetaplah berilmu dan jangan pernah berhenti menuntut
ilmu. Ilmu tak hanya kita dapatkan dari buku saja. Ilmu bisa kita dapatkan dari
kehidupan yang kita jalani. Itulah ilmu kehidupan. Ilmu yang didapatkan tiap
orang yang pastinya berbeda-beda. Senantiasalah rendah diri. Jangan pernah
memandang orang ini baik atau buruk. Baik dihadapan kita belum tentu baik
dihadapan Allah. Begitu sebaliknya.
Ibadah dan ilmu yang diperoleh dari
majelis ta’lim atau pengajian, tidak sampai merasuk ke hati.Tidak meresap ke
jiwa. Yang sejatinya ilmu itu menumbuhkan rasa takut kepada Allah. Semakin
rajin ibadahnya semakin baik akhlaknya. Namun ilmu hanyalah menjadi sebuah
teori dan hafalan. Dan ibadahnya tidak masuk ke relung hati dan jiwanya. (Ust.Abdullah Zaen).
Waktu
Tak kan ada
habisnya jika kita membicarakan waktu. Banyak perumpamaan-perumpaaan yang
menggambarkan waktu. Waktu bisa mematikanmu. Bisa pula menghidupkanmu. Waktu
bisa mematikanmu dikala kau menyia-nyiakannya. Menghidupkanmu kala kau gunakan
sebaik-baiknya. Bahkan waktu bisa menjauhkanmu
dari Tuhanmu. Waktu itu laksana pedang. Maka, tebaslah waktu sebelum kau
ditebas oleh waktu.
Kita lihat jam
dinding yang jarumnya tak henti berputar dan ia tak bisa berputar balik. Nah
seperti itulah kehidupan kita. Kita tak dapat kembali ke hari sebelumnya untuk
merasakan hal yang sama.
Jangan pernah
menunda-nunda waktu untuk mengisi hari-hari kita dengan kegiatan bermanfaat.
Salah satunya adalah menulis. Terkadang kita menunda-nunda waktu untuk menulis.
Untuk itu yuuukk kita luangkan waktu untuk menulis. Lima belas menit saja dari
waktumu. Jika itu bisa istiqomah In Syaa Allah kita akan terbiasa menulis tiap
hari.
Jika kita menunda-nunda
akhirnya nanti bisa malas dan kita tak jadi menulis karena hal tersebut. Nanti,
nanti, dan nanti. Itulah kebiasaan yang mungkin berat kita hindari. Waktu itu
ternyata bisa melenakan kita. Ayolah jangan bermalas-malasan. Kita hidup hanya
sekali lalu mati.
Kita harus
pandai-pandai memanajemen waktu. Salah satu caranya adalah membuat jadwal
harian. Dengan jadwal itu awal-awalnya kita selalu melihat apa yang harus kita
kerjakan pada jam itu. Nah, dari hari ke hari pasti kita akan terbiasa dengan
jadwal yang sudah kita buat. Dari situlah waktu akan termanajemen dengan baik.
Kita bisa membedakan waktu untuk bekerja, waktu untuk mengerjakan tugas, waktu
untuk membaca, waktu untuk menulis, waktu untuk istirahat, dan waktu untuk
lain-lainnya.
So, ayo perbaiki diri dengan memanajemen
waktu. Dengan manajemen waktu kita bisa mengisi hari-hari kita dengan kegiatan
bermanfaat dan tak terbengkalai apa yang sudah kita atur. Kalaupun waktu yang
sudah kita tetapkan itu meleset 5 menit atau lebih dari itu adalah sebuah
kewajaran. Tapi kalau meleset hingga satu jam itu suatu ketidakmampuan kita
dalam memanajemennya. Semua bisa kita atur selama kita benar-benar berniat
Lillahi Ta’ala dan ingin memperbaiki diri.
Tuesday, January 19, 2016
Yakin Bisa
Sebuah perjuangan
yang tak pernah ku lupakan. Yang akan menjadi sejarah dalam kehidupanku. Alhamdulillah
aku bisa merasakan bagaimana kuliah di ITS. Itulah kado terindah dari-NYA untukku.
Masih kuingat bahwa ketika aku masih SMK
kelas X aku sudah memiliki impian untuk bisa kuliah di ITS jurusan Teknik Informatika.
Aku tak minta itu D1 atau S1 karena dulu aku tidak tahu tentang hal itu, yang
terpenting aku bisa kuliah di ITS. Aku minta yang terbaik pada-NYA. Dan
Alhamdulillah Allah memberikanku kesempatan untukkuliah di ITS, D1 PIKTI
(Pendidikan Informatika dan Komputer Terapan).
Mengapa aku bisa masuk ITS?
Semua itu karena yakin. Karena keyakinan kupada-NYA bahwa Allah
pasti akan mengabulkan permintaan hamba-NYA. Karena Allah
MahaPengasih Lagi Maha Penyayang.
Untuk kawan-kawanku semua, yakinlah bahwa Allah itu ada.Yakinlah bahwa kita mampu menggapai impian kita.
Ketika kita gagal mencapai impian kita yakinlah bahwa Allah
pasti sudah mempersiapkan kado yang terindah untuk kita. Yakinlah kita bisa.
Wisuda. Ini bukanlah akhir dari segalanya.
Ini adalah awal sebuah perjuangan. Masih ada yang harus aku perjuangkan lagi.
Langkahku masih panjang. Ini baru saja wisuda D1. Aku belum menempuh S1. Semoga Allah
masih memberikan kesempatan untuk menuntut ilmu hingga S1.Yakin aku bisa.Aamiin.
Saturday, January 16, 2016
Hidup Untuk Berbagi
“Mbak, ini untuk kamu,”
“Oh, iyaa bu. Lalu untuk anak ibu mana?”
“Tenang saja mbak, sudah ada kok. Saya senang bisa berbagi dengan mbak. saya sangat berterima ksih mbak telah menolong saya.”
“Sama-sama bu.”
“Saya tahu mbak, saya ini adalah orang susah. Suami saya juga sudah meninggal. Namun, saya harus bisa memikul tanggung jawab ke anak. Saya harus menafkahi anak saya mbak, saya harus menyekolahkannya. Saya senang bisa berbagi dengan mbak. Hidup itu untuk berbagi mbak. Sedikit dari yang kita punya itu akan lebih baik jika kita saling berbagi. Saya yakin mbak, ALLAH sudah mengatur rezeki saya. Meskipun dagangan saya tidak habis, namun nanti saya jual di rumah In Syaa ALLAH habis mbak. Alhamdulillaah saya di rumah juga masih bisa jualan mbak. Di rumah banyak anak-anak kecil yang TPA. Ya beginilah mbak saya menopang hidup saya. menafkahi keluarga saya. Anak saya dan adik saya. Ya sudah ya mbak, saya mau pulang dulu.”
Begitulah percakapan singkat sore itu (9 Maret 2015).
Dapat kita ambil hikmah dari dialog tersebut. Pada hakikatnya kita sebaiknya saling berbagi dengan sesama dalam keadaan apapun. Syukuri keadaan yang ada. Jangan pernah mengeluh dalam keadaan apapun. Dan masih banyak hikmah lain yang dapat kita petik.
Berbagi yuuukkk!!!
#09032015
Subscribe to:
Posts (Atom)








