"Maka Nikmat Tuhanmu yang Manakah yang Kamu Dustakan?" QS. Ar-Rahman:55

Thursday, August 22, 2019

Belajar Hari Ini

Satu

Alhamdulillah setelah vakum hampir setahu, akhirnya hatiku tergugah kembali untuk sekedar menengok kembali rumah singgahku ini. Terakhir postingan blogku adalah tanggal 9 September 2018. Lama bener yaak. Hahaha.

Baiklah. Tanpa panjang lebar aku berbasa-basi, aku akan mulai bercerita tentang pelajaran hidup yang ku dapatkan hari ini. nanti akau akan bercerita bebas saja ya. Sebab yaa aku tak ingin tulisanku formal-formal banget gitu. Tulisanku hanya sekedar pelampiasanku karena tak mampu banyak bicara pada siapapun. Wkwk.

jadi hari ini tuh aku tertampar sama salah satu postingan temanku terkait dunia menulis gitu. Eh, tetiba hati ini tergerak untuk menulis lagi deh. Entah apa yang aku pikirkan. Hehe. Intinya aku akan mencoba untuk istiqomah menulis lagi. Yah meskipun hanya menulis beberapa kalimat aja gitu. Pokoknya intinya tiap hari aku harus menyempatkan diri untuk menulis di blog. jadi suatu saat nanti tulisanku bisa jadi kenangan deh. Hehe.

Bisa nggak ya aku melewatinya? Bisa nggak ya aku melakukannya? Kira0kira bisa istiqomah gak ya?

Ah rasanya aku terlalu banyak alasan. Lebih baik aku langsung bertindak aja. Dan mencoba untuk membuat planing ke depan. Agar lebih teratur lagi dalam menulis, berfikir, ngatur waktu, dsb.

Ku do'akan siapapun kamu yang membaca tulisanku semoga Allah senantiasa anugerahkan kebaikan untuk kalian. Allah limpahkan segala rahmat dan hidayahnya pada kita semua.

Do'ain aku bisa istiqomah yaa. Meskipun hanya tulisan yang receh banget, semoga nanti kalian bisa mengambil sisi kebaikannya. Jika ada sisi buruknya, dibuang jauh-jauh aja yaa. Heheh.

Bismillahirrahmanirrahiim... Mulai 22 Agustus 2019 Dwi Andayani mulai menulis lagi di blog ini :)

Terima kasih :)
Read More

Sunday, September 9, 2018

Hariku Seperti Drama yang Tak Berkesudahan


Hariku Seperti Drama yang Tak Berkesudahan

Ini tak sekedar drama korea yang digemari anak-anak jaman now. Ini adalah sebuah drama yang mungkin tak kan terulangg kedua kalinya. Ia yang kan menjadi sebuah cerita hari ini, kenangan hari esok, dan sejarah di masa mendatang.

Ah, jangan terlalu mendramatisir. Lhha ini hanya kisah drama kemarin sore aja kok.

Jadi, kemarin itu aku ikut kelas menulis FLP di Ngagel, Surabaya. Percaya nggak kalau aku ikut FLP? Eh masih Pramuda FLP ding. Jangan percaya ya, ini hanya candaan. Nah, di perjalanan banyak banget yang nawari untuk ikut ini itu? Banyak yang ngajakin aku kesana kemari. Dan taka da satupun kegiatan yang tak ikuti. Ah, sok sibuk banget ya. Padahal hanya balas chat aja.

Lalu, sepulang dari menuntut  ilmu itu pada akhirnya aku diajak mbak Vika ke DTC. Nggak usah tak kenalin siapa mbak Vika ya, paling kamu juga nggak bakal kenal. DTC itu adalah Darmo Trade Center, pasar Wonokromo aku menyebutnya.

Disana aku diajak belanja, tapi faktanya aku disana numpang makan. Lha gimana? Mbak Vika belanja ini itu, aku duduk-duduk aja sembari menunggu. Eh ada yang jualan makanan, akhirnya aku tinggal makan deh. Ah, teman macam apa ini? Udah tinggalin aja.

Drama belum selesai. Setelah muter-muter DTC kita berduaa langsung pulang. Apa nggak pusing ya muter-muter? Ah, abaikan. Nggak lucu ya.

Sampai di kos, buka pintu kamar. Eh ada setan. Bukan. HPku bordering, ada seseorang yang menelponku. Siapa dia? Mbak syantiik. Ngomongnya biasa aja kali.

Berkali-kali di telpon nggak ku angkat. Eh, tau-tau di chat dan diajak ke dolly. Ngapain ke Dolly? Eh, jangan prasangka buruk ya. Sssttt.

Tanpa pikir panjang aku mengiyakan ajakn itu. Padahal baru saja masuk kamar loh. Alhamdulillah ini nikmat. Seribu jurus menyelesaikan tugas kos dikeluarkan. Selesai dan aku langsung berangkat ke Dolly dengan mbak Dewi.

Alhamdulillah motoran lagi. Suka banget kalau diajak motoran kemana-mana gitu. Sembari menghafalkan jalan di Surabaya. Penting aku nggak sampai menggambar jalannya ya. Ah jangan sampai deh.

Apa yang terjadi? Sampai di Dolly zonk alias oang yang dicari telah pergi. Janjiannya siang, eh didatangi malah melayag. Sabar ya mbak Dew, ini ujian kesabaran.

Pada akhirnya kami berdua mencari masjid, menenangkan diri sejenak dari kepenatan yang telah terjadi. Agar amarah tak meledak-ledak seperti bom. Nanti bahaya bisa rusak semua.

Nah, nyari masjid dan ketemu. Sampai disana masih aja bimbang bagaimana kelanjutannya. Aku diajak diskusi cuma melongo aja. Nggak tau gimana mau ngasih solusi apa. Aku pun Cuma bisa berdo’a. Semangat mbak Dew.

Adzan Ashar berkumandang. Kami berdua melaksanakan sholat lalu pulang. Tanpa membawa apa-apa, hanya ditemani sepeda motor Vario saja. Eh, sama benda mati lainnya ya. Tuuh kan mulai nggak jelas. Udah ya, jangan diterusin bacanya, nanti kamu ikutan nggak jelas.

Tak cukup sampai disini aja. Drama belum usai.

Di kos, teman-temanku ada yang ngajakin masak nasi goreng, ada yang ngajakin bantu masakin serundeng. Kamu ngajakin aku apa? Lalu, tanpa pikir panjang, aku mengiyakan karena kondisi perut sedang kelaparan.

Eh, ada temanku lagi satunya minta tolong dianterin beli kebel data. Dan aku baru ingat ada tanggungan belanja. Ya pada akhirnya setelah sholat Magrib langsung pergi belanja dan beli kabel data.

Sepulang belanja aku memenuhi janjiku pada teman-teman. Masak nasi goreng. Ada yang nyiapin nasinya, ada yang cuma bantu do’a, dan aku bagian me-ngulek bumbunya. Eh, istilahnya menghaluskan bumbu ya.

Lalu, selesai sudah nasi goreng yang kubuat. Harusnya mau buat untuk bertiga, eh malah jadinya untuk sejagad raya. Lha gimana, nasinya ternyata kebanyakan.

Alhamdulilllah, satu per satu pintu kamar ku ketok. Penghuninya keluar kamar dan ikut menyantap nasi goreng. Dan ludes dimakan sejagad raya.

Katanya sih nasi goreng pedes. Bisa dibilang nasi goreng setan, kana da mie setan nihh kalau di Surabaya. Nggak papa sih dibilang nasi goreng setan, asalkan yang setan bukan yang bikin nasi goreng.

Selesai.

Drama yang terlalu didramatisir. Padahal hanya cerita biasa aja. Kok bisa jadi tulisan ya. Ah nyesel banget kenapa nggk dari dulu-dulu nulis tulisan nggak jelas serepti ini.

Dan aku yakin ini tulisan banyak typo nya. Ah sudahlah, nanti ku edt lagi. Selamat membaca.
Eh, ada satu lagi. Semalam adalah H-1 pendaftaran lomba cerpen tingkat nasional. Dan aku nekad ikutan. Do’ain ya, lolos nggak lolos penting ikutan lomba. Cari pengalam broo. Dan ini adalah H-7 pengumpulan karya, aku pun belum nulis sma sekali. Kok bisa ya? Kalau bukan Dwi ya nggak ada. Mohon jangan ditiru ya. Berbahaya.

Sekian dan terima kasih.

Surabaya, 10 September 2018

Ditulis dalam waktu sekian menit dengan penuh kecepatan, tapi nggak selesai-selesai. Dan kondisi belum sarapan. Jadi mohon maaf kalau terdapat kekliruan. Ini asli, tanpa basa-basi. Spontanitas dan orisinal.

Sekian dan terima kasih.


Read More

Sudah Kenal Tambah Sayang


Sudah Kenal Tambah Sayang 

Sejauh ini, saya nulis di media manapun tak pernah memperkenalkan diri. Mungkin hanya sekedar tahu nama saja. Dwi gitu aja kan ya? Atau ini yang pada baca tulisan saya ada yang belum pernah ketemu saya kah? Sini, ayo kopdar.

Oke. Kenalan dulu ya. Ada pepatah mengatakan, "Tak kenal maka tak sayang". Tak tambahi sendiri boleh kan ya? " Kalau sudah kenal, ati-ati tambah sayang".

Nggak usah senyum-senyum, nggak lucu.

Perkenalkan nama saya Dwi Andayani tanpa H. Ingat-ingat ya, tanpa H. Kalau mau pakai H nanti mohon kerjasamanya untuk berkenan mengurus surat-surat kelahiran saya dan berkas-berkas penting lainnya.

Saya biasa dipanggil Dwi. Tapi kalau saya disuruh mengucapkan kata "Dwi" saat kenalan pertama kali, nama saya bisa berubah jadi Umi, Uwi, Nuwi, Ui, Upi, dan sebagainya. Makanya saya sedia bolpoint, kertas dan HP untuk nulis nama.

Kenapa kok namanya bisa berubah begitu, itu yang salah Dwi sendiri atau yang mendengarkan telinganya lagi sakit?

Mau tau jawabannya? Sini ngobrol sama Dwi. Atau follow aja IG saya @andayanid93 sekaligus @cahayaislami.book ini adalah akun jualan saya. Atau bisa langsung chat saya ke nomor 085749134559. Eh, maaf ya malah jadi promosi. Jadi salah buka lapak deh.

Oke. Kembali ke laptop.

Saya lahir pada tanggal cantik. Kok cantik? Iya donk. 212. Keren kan? Seperti wiro sableng, film jaman old.

Eh, saya mau mengartikan dibalik sebuah nama ya. Dwi itu dalam bahasa jawa adalah anak nomor dua. Andayani itu apa ya? Kalau Tut Wuri Handayani kan dari belakang memberikan dorongan. Bisa jadi Andayani itu artinya dorongan. Kalau digabungkan bisa jadi dua dorongan. Eeeaaa eeaaa...

Dari nama itu ternyata memang bisa dikatakan saya sering mendorong teman-teman saya loh. Itu katanya sih. Bukan mendorong untuk njebur sungai ya, tapi mendorong untuk selalu semangat.

Saya itu bisa dikatakan hobi banget nyemangati orang-orang terdekatku. Bahkan suatu ketika ada orang yang tiba-tiba chat saya dan minta motivasi. Please deh mas/mbak, saya bukan motivator. Tapi okelah saya tak merubah diri jadi motivator dadakan.

Oh iya, kalau ditanyai hobi saya itu suka bingung. Lha gimana ya, saya itu kalau dibilang suka nulis, tulisan saya gitu-gitu saja dan tidak setiap hari nulis. Kalau dibilang hobi baca, buku saya sedikit. Mungkin hobi baca chat ya, itu baru bener. Satu lagi, kalau dibilang hobi masak, paling bisanya masak air, mie, dan nasi.

Lalu, apa donk hobinya? Hobi saya itu suka nulis chat. Udah, itu saja. Nggak lebih kok. Kamu percaya sama saya? Lebih baik nggak usah percaya ya, percayanya sama Allah saja. Kalau percaya sama saya nanti jadi sesat.

Nah, saya itu suka banget naik sepeda motor. Kalau disuruh kemana-mana naik motor itu pasti semangat banget. Meskipun sering nyasar kemana-mana, dari situ saya malah jadi tau tempat-tempat tersembunyi, tapi bukan goa loh ya. Berarti saya bisa dikatakan hobi bersepeda motor kan ya. Nah, itu hobi saya berarti.

Dan, ketika diperjalanan sukanya memikirkan hal aneh-aneh. Seperti tulisan ini nih, dapat idenya ketika perjalanan pulang dari menuntut ilmu. Serentak otak ini terus berjalan tanpa henti. Eh, yang berjalan motornya ya, bukan otaknya.

Sekalinya dapat ide nulis, sepuluh judul pun disantap. Eiitss, sepuluh judul ya. Di bold, di italic, di underline. Sepuluh judul, bukan sepuluh karya tulisan. Jadi begini, satu (Aku Jatuh), dua (Aku Bangun), tiga (Aku Lari), empat (Aku Sakit), lima (Aku Minum Obat), enam (Aku Tidur), tujuh (Aku Bangun Tidur), delapan (Aku Mandi), sembilan (Aku Sekolah), dan sepuluh (Aku Dapat Nilai Terbaik). Tepuk tangan anak-anak.

Masyaa Allah, kalian luar biasa ya. Membaca tulisan saya dengan penuh semangat. Sampai dihitung berapa judul tulisan saya. Padahal itu hanya khayalan belaka, tanpa ada rekayasa. Murni, orisinal, asli, tanpa tambahan, apa lagi ya?

Eh, jangan ketawa. Nggak lucu.

Sebelum pembaca meluapkan kekesalannya pada saya. Saya pribadi mohon maaf yang sebesar-besarnya. Tulisan ini hanyalah khayalan semata. Ada unsur kesengajaan yang tak diketahui asalnya.
Mari kita tutup tulisan ini dengan membaca Hamdallah dan do'a penutup kafaratul majelis bersama-sama.

Sekian dan terima kasih.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Surabaya, 9 September 2018
Ditulis setelah makan nasi goreng.

Read More

Monday, August 27, 2018

Beginilah Jadinya Jika Punya Bakat Terpendam


Beginilah Jadinya Jika Punya Bakat Terpendam

Aku ini bisa dibilang kemaruk dalam hal kemampuan. Banyak hal yang pernah ku pelajari namun kandas tak berbekas. Memang aku ini suka hal baru tapi hal yang lama tak dirawat, seringnya gitu. Jadi sayang sekali bukan?

Aku mau cerita ya. Tapi kamu nanti jangan marahin aku setelah baca tulisanku. Karena nggak berfaedah banget sih sebenarnya. Isinya hanya curhatan-curhatan yang tak tersampaikan. Lha binggung mau ngobrol sama siapa. Daripada pemikiranku tak tersampaikan lebih baik kan dibuat tulisan. Lumayan tuh suatu saat jadi kenangan. Asyiiik…

Sudah ya. Nggak usah basa-basi. Lanjuutt…

Eh, teman-teman, aku ini bisa design. Suka banget mainan Corel Draw, Inkscape, Photoshop, dan aplikasi design lainnya. Tapi ya begitu, setelah tau dan praktek beberapa kali dan bisa dibilang aku berhasil, ku tinggal deh semuanya begitu saja.

Aku ini loh. Kok bisa-bisanya mengabaikan keahlian itu. Padahal nih, kalau keahlian itu didalami, ditekuni betul pasti bisa jadi lading penghasilan tuh. Wah, kenapa diri ini baru tersadar ya. Padahal ilmunya sudah lumayan nih, tapi ada saja alasan tertentu yang membuatku malas untuk menekuni lagi.

Padahal, saat ini aku sedang bisnis online. Tepatnya jualan buku-buku islami dan marketnya baru di Instagram aja. Ini para fans tulisanku pada punya Instagram semua kan? Follow aja yaa @cahayaislami.book sekalian follow juga @andayanid93 yang isinya curahan hati seorang Dwi. Duh, kok malah promosi yak. Yah, salah lapak deh.

Lalu, apa kaitannya design dengan bisnis online?

Kaitannya erat banget donk say. Jadi begini nih, aku kan jualan buku  di IG(red:Instagram). Pastinya butuh foto untuk diunggah bukan? Nah, untuk mempercantik foto-fotonya tentu pakai aplikasi bukan? Dikasih logo lah, label harga lah, bingkai lah, kata-kata lah, atau apalah gitu. Lebih sedap mana foto yang ala kadarnya dengan foto yang dipercantik sedemikian rupa? Jawab dalam hati aja ya. Hahaha.

Teruuss, nggak mungkin juga kan yaa foto-foto yang diupload itu hanya katalog jualan aja. Nah, bisa diselipkan quote dari ayat-ayat Al-Qur’an, Hadist, pepatah atau apa gitu. Dan dari itu pasti butuh yang namanya aplikasi design bukan?

Iya sih. Sekarang memang banyak sekali quote yang bisa kita dapatkan di postingan tetangga. Tapi jika kita bisa bikin sendiri, apa boleh buat. Skill kita lebih terlatih dan terbiasa lagi bukan?

Lalu, aku maunya juga tampilan lapak jualanku itu berbeda dengan yang lainnya. Karena aku merasa lapakku itu masih bisa dibilang biasa-biasa aja. Ya itu-itu aja tampilaannya. Buku, quote-nya nyomot punya tetangga, posisinya ya begitu-begitu saja tidak ada perubahan.

Pengen banget sih tampil beda. Bisa nggak ya? Ya harus bisa donk.

Minimal mulai bikin quote sendiri begitu. Lalu bikin buku sepaket dengan harga lebih murah dengan design tangan sendiri. Menyisipkan logo di buku agar tidak dicomot orang lain.

Ah, semua terbayang dibenakku. Dan hal harus kulakukan adalah action, action, dan action. Keinginan tanpa action bakalan kandas tak berbekas.

Yuuk semangat untuk lebih maju. Jangan hanya jalan ditempat saja. Memang butuh kkerja keras dan pemaksaan untuk kita menjjadi lebih maju. Menjadi lebih baik dari hari sebelumnya. Membuktikan pada dunia bahwa kita bisa. Kita mampu seperti mereka, orang-orang sukses diluar sana. Dan aku yakin, aku, kamu, dan kita semua bisa menjadi orang sukses dunia akhirat. Bismillah. Ayo berjuang. Jangan memendam bakat yang pernah dimiliki. Kembangkan. Besarkan. Nggak usah takut akan kegagalan. Justru kegagalan adalah awal sebuah kesuksesan. Selamat berjuaang kawan.


Surabaya, 27 Agustus 2018
Celoteh tak berujung, ditulis disudut kamar yang sunyi.
~Dianda Cahaya~

Read More

Wednesday, August 8, 2018

Aku Dimasa Sekarang


Aku hidup dimasa sekarang. Tak jarang aku selalu mengingat masa laluku yang tak kuharapkan. Tapi aku yakin bahwa ini sudah skenario Tuhan. Dia tak kan membebani hambanya melebihi batas kemampuan. Dengan itu Alhamdulillah hatiku tenang.

Sesekali aku melihat kiri kanan. Teman-temanku berasal dari berbagai kalangan. Mulai dari pengangguran hingga karyawan. Ada juga yang anak TK, SD hingga kuliahan. Semuanya kuanggap teman, karena aku tak pernah pandang bulu dalam berteman. Semua ini makhluk Tuhan, jadi derajatnya sama saja disisi-NYA.

Ketika aku berjalan, bertemu sosok panutan (red:teman baikku) di masjid misalnya. Masyaa Allah, aku iri dengan kesholihahannya. Kuliah sambil menghafal Al-Qur’an. Apa yang terpancar dari wajahnya itu adalah Al-Qur’an. Sejuk sekali aku memandangnya.

Mengapa nggak dari dulu aku belajar lebih rajin agar bisa masuk kampus ternama. Dapat beasiswa hingga aku tak bekerja dan bisa menghafal Al-Qur’an tanpa harus mondok bayar mahal-mahal. Bukan berarti aku tak mau bayar, tapi aku ingin meringankan beban orang tua.

Kembali lagi pada sebuah  mimpi yang pernah tertulis di kertas kusam itu. ‘Bisa kuliah sambil kerja’. Nah, salah siapa coba? Hhhmm nggak ada yang salah sih. Semuanya benar.

Jadi ternyata Allah sudah mengabulkan mimpiku itu. Aku aja yang kurang bersyukur. Ngapain juga menyesali masa lalu. Lebih baik kan aku memperbaiki masa sekarang dengan belajar dari masa lalu. Betul apa betul?

Yah, kalau difikir-fikir, manusia itu ada saja keinginannya. Ada saja yang merasa belum terpenuhi. Harusnya aku bersyukur bisa kuuliah sambil kerjaa. Lihat saja diluaraan sana. Banyak anak yang putus sekolah karena keadaan ekonomi keluarga yang kurang mampu.

Sudahlah, syukuri saja keadaan saat ini. Allah punya cara lain untuk menjadikanmu seperti mereka (red:orang baik). Allah telah merajut benang-benang terbaik untuk hambanya. Jangaan khawatir, rezeki tak kan tertukar. Tiap diri ini sudah ada buku perjalanan hidupya.
Read More

Tuesday, August 7, 2018

Celoteh Tak Berfaedah


Turut berduka atas kejadian semalam yang harusnya tidur nyenyak jadi beres-beres kamar karena rak buku ambrol. Gempa di Lombok, efeknya di kamarku. Ah, imajinasiku terlalu tinggi. Sssttt jangan ketawa ya, awas kalau sampai ketahuan ketawa. 

Sudah ya, tak perlu kuceritakan proses ambrolnya seperti apa dan betapa strong-nya aku yang bongkar-bongkar rak. Tang teng tang teng suara besinya yang membuatku takut membanggunkan temanku lainnya. Ah, hanya bongkar aja kok. Hahaha. Jika kuceritakan nanti kalian bakalan ngetawain aku. Sudah ya.

Dari rak buku hingga lamunanku.

Ah sangat sayang sekali jika dilewatkan begitu saja moment itu. Ia yang tak kan terulang kedua kalinya dalam hidupku. Mungkin esok akan berbeda lagi kejadian yang menimpaku. Dan lamunanku juga akan berbeda dengan hari itu.

Nah, aku akan cerita lamunanku aja ya, jangan kejadiannya. Takut nanti kalian tak bisa tahan tawa.
Jangan lupa siapkan popcorn atau apa gitu lah yang bisa dimakan. Kayak di bioskop aja ya. Udah jangan dibaca tulisan gak jelas ini.

Jadi begini lamunanku setelah beberes buku…

Melihat tumpukan buku segitu banyaknnya, hanya terselip beberapa saja tulisanku. Ah, anggap saja tulisanku tidak ada sama sekali. Hilang ditelan bumi. Lalu, kapan ya aku punya perpustakaan mini yang isinya karyaku bersama dia.

Eh, dia siapa? Iya dia lah, dia yang nantinya jadi pendamping hidupku. Siapa lagi kalau bukan suamiku. Aamiin.

Itu hanya sebuah mimpi belaka. Tapi siapa tahu Allah kabulkan. Punya perpustakaan pribadi yang isinya karya sendiri. Namun bukan berarti buku-buku lainnya ditiadakan loh, ya wajib ada donk kan buat referensi. Betul apa betul?

Namun, aku melihat potensi diri ini di dunia tulis menulis belum begitu mahir apalagi untuk istiqomah nulis. Wah Masyaa Allah, syusyah-nya inta ampun. Yah bacanya jangan fasih-fasih gitu donk. Haha.

Mungkin tiap hari bisa dikatakan rajin nulis. Nulis chat misalnya. Duh, parah sekali aku ini. Maunya punya perpustakaan pribadi tapi nulis aja nggak mau rutin tiap hari. Mau sampai kakek nenek kalau begini caranya ya kagak bakalan bisa brooo.

Maka dari itu aku berusaha memaksakan diri buat nulis tiap hari. Minimal satu kalimat lah kalau benar-benar sibuk. Satu kalimat dua kalimat kalau rutin tiap hari pasti nggak akan terasa bakalan jadi sebuah cerita. Keren kan?

Semisal aja nih, satu hari satu kalimat. Eh, kebangeten kalau Cuma satu kalimat. Ralat deh ralat, jadi satu paragraf gitu aja yaa. Lebih manteb tuh.

Nah, bayangkan aja sehari satu paragraf. Seminggu udah tujuh pargraf. Sebulan tiga puluh paragraph. Eh, sudah jadi satu cerita tuh. Keren apa keren? Teruuss, setahun dapet 30 cerita. Bisa tuh dikumpulin semua ceritanya, lalu di-print. Jadilah buku karya pribadi.

Mau nggak seperti itu? Setahu punya satu buku. Ah, aku mah mau mau aja broo.

Tapiii… ada tapinya looh. Itu hanya bayanganku belaka. Faktanya jauh dari mimpi. Ah, pengen salto kalau gini rasanya.

Kenapa nggak dari dulu aku nulis? Aku nyesel baru sekarang tergerak menulis. Udah lama sih aku terjun di dunia tulis menulis, sejak ibuku mengajariku menulis. Hahaha. Udah kamu jangan ikutan ketawa. Dosa.

Ah, kok aku nggak ngerasa nulis yaa. Padahal ini curhatan tak berfaedahku sudah dua halaman saja. Duh, menuangkan pikiran ke tulidan itu ternyata tak serumit yang aku pikirkan.

Yah walaupun tulisanku banyak yang nggak jelas dan nggak sesuai EYD kalian tetap aja membacanya. Heran deh sama yang nulis dan baca tulisan ini.

Do’akan saja ya. Semoga yang nulis dan baca ini dibberikan hidayah sama Allah untuk tergerak nulis.

Nulis itu nggak bakalan rugi. Bahkan nulis itu bisa bikin pikiran kita lebih tenang. Karena apa yang kita pikirkan sudah tertuang dalam tulisan. Lalu, suatu saat kita pasti bakalan membaca tulisan itu dan bisa mengambil sebuah pelajaran.

Tau nggak bahwa dengan menulis kita bisa masuk surga? Kok bia? Ya bisalah.

Coba bayangkan ya, kamu menulis tentang sedekah. Lalu ada satu orang yang tergerak untuk sedekah dan ia tularkan ilmunya pada orang lain. Dia juga membagikan tulisanmu di media sosial. Dan banyak orang yang tergerak dengan ajakan sedekah itu. Bukankah itu adalah sebuah jariyah? Siapa tahu itu adalah penolongmu di surga kelak. Kita kan nggak pernah tau lewat pintu mana kita bisa masuk surga.

Yuk kawan,, mumpung masih ada waktu dan kesempatan. Tulislah apa yang bisa kamu tulis. Nggak usah taaku orang lain tak mmembacanya. Yakinlah suatu saat kamu akan membutuhkannya.

Yuuk menulis!!!

Salam hangat dari Dwi Andayani yang sekarang sedang sibuk membangkitkan semangat untuk kembali di dunia tulis menulis.

Dwi rindu menulis.
Read More

© Seberkas Cahaya, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena