"Maka Nikmat Tuhanmu yang Manakah yang Kamu Dustakan?" QS. Ar-Rahman:55

Friday, January 19, 2018

Sabar


S A  B A R

Sebuah sifat yang pasti dimiliki setiap manusia. Tapi tidak setiap waktu semua bisa  menerapkannya. Ketika ditimpa musibah pun kita pasti akan memunculkan sifat ini, sabar namanya. Namun ada sebagian orang yang justru mengabaikan sabar, ia lebih memilih marah-marah ketika ditimpa musibah.

Setiap insan pasti akan mengalami yang namanya ujian. Namanya hidup pasti ya ada ujian, kalau mau lepas dari ujian, mati saja. Haha. Ada senang ada susah, ada canda ada tawa, ada siang ada malam, ada pagi ada petang, ada laki-laki ada perempuan. Begitu juga ujian, pasti dibalik sebuah ujian itu ada kebahagiaan.

Sabar kuncinya. Apapun masalahnya, sabar. Nggak punya duit, sabar. Dan pastinya ya harus diiringi dengan do’a dan ikhtiar juga donk, jangan sabar aja di tempat terus tiba-tiba duit datang sendiri? Ya  nggak  bisa lah. Masak iya Allah bakal nurunin duit sedangkan kita duduk aja di kamar.

Bukankah sudah dijelaskan dalam Al-Qur’an tentang sabar. Yuuk baca ayatnya! (Senyum dulu)

“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” QS. Al-Baqarah :153

Tuuh kan, sudah jelas banget ayatnya dalam Al-Qur’an. Itu tuh yang ngasih petunjuk Allah loh ya. Jangan ragu deh, kalau Allah yang berfirman mah pasti nggak bakal sesat.

Kalau misal nilai ujianmu jelek lantas jangan menyalahkan Allah. Ya Allah aku sudah sholat 5 watu tepat waktu, aku sudah sholat tahajud, dhuha nggak pernah tertinggal, puasa Senin Kamis nggak pernah lupa, sedekah tiap hari. Kenapa ya Allah, kenapa nilaiku jelek.

Wah, berarti niatmu kudu dibenerin tuh. Luruskan niat. Niat ibadah karena Allah jangan karena biar dapat nilai bagus. Kalau ibadahnya sudah bener, otomatis apapun yang kamu minta pasti bakal Allah kasih. Tanpa meminta pun pasti Allah kasih, Allah itu mah tau apapun kebutuhan kita, keinginan kita.
Jadi kita ya harus sabar. Coba kita lihat bagaimana pola belajar kita selama ini. Bisa jadi kita kurang foklus ketika belajar. Ada gadget di samping kita, eh dikit-dikit buka HP, dikit-dikit buka Instagram, dikit-dikit buka youtube. Lalu kapan kita belajarnya? Waktunya belajarnya 15 menit, HPannya 2 jam. Gimana mau masuk ilmunya? Iya apa iya?

Lebih manteb lagi nih, ketika belajar disamping kita ada Al-Qur’an. Pernah nggak ngelakuin itu? Hayooo siapa aja yang pernah? Wah, Masyaa Allah banget tuh. Belajar, capek lalu buka Al-Qur’an. Setelah baca Al-Qur’an do’a sama Allah. Ya Allah, aku capek banget nih, ilmu yang ku pelajari nggak masuk-masuk. Tanamkan dalam pikiranku Ya Allah. Wuussh, nggak pake hitungan menit tuh, Allah pasti akan memudahkan kita untuk belajar.

Memang sih kadang-kadang ada rasa malas, tapi cobalah lakukan. Males itu anggap saja sebagai hiburan. Tapi ya jangan tiap hari males, itu mah namanya bukan lagi hiburan tapi penyakit.
Ingat ya semuanya. Masih ingatkan ayat di atas tadi? Baca lagi yuuk!!! (Senyum lagi yaa)

“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” QS. Al-Baqarah :153

Terima kasih semuanya, kalian telah membaca keseluruhan isi curhatanku. #Eh 
Read More

Thursday, January 18, 2018


Profesi Terbaik

Ketika masih kecil aku ditanya oleh ibu tentang cita-citaku. Aku menjawab ingin jadi guru, karena ilmuku akan bermanfaat dan siapa tahu tiap ilmu yang kuajarkan itu akan menjadi penolong di hari akhir kelak.

Baru lulus SD Allah sudah mengabulkan do’aku. Jadi guru beneran, tepatnya guru ngaji. Memang saat itu di desaku jarang sekali yang bisa ngaji dan mau mengajar ngaji. Alhamdulillah berbekal ilmu yang ku dapatkan semenjak TK itu bermanfaat. Aku bisa menularkannya pada adik-adik di desa.

Ketika menginjak SMP sudah berubah lagi cita-citanya. Aku ingin jadi direktur di sebuah perusahaan. Ya namanya saja anak kecil. Dimanapun dia pasti punya cita-cita yang tinggi.

Aku merasa cita-citaku saat itu ketinggian. Nggak sadar kalau aku nggak bakalan mampu meraihnya. Karena hatiku sudah menciut setelah melihat teman-temanku yang pintar dan mimpinya nggak setinggi mimpiku itu.

Ketika hendak lulus SMP, aku melanjutkan ke SMK jurusan Teknik Komputer dan Jaringan. Rencana setelah lulus SMK ingin sekali kerja dapat rezeki banyak buat buka warnet. Jadi anak-anak di desaku biar nggak jauh-jauh jika membutuhkan akses internet saat itu. Kalau sekarang mah tiap tangan punya HP android sendiri, jadi sudah lebih gampang untuk akses internet.

Mimpiku kandas. Waktu SMK sering sekali main ke lab computer. Masalah hardware maupun software sampai hafal diluar kepala. Tapi temanku cowok jauh lebih jago dariku. Yaiyalah, cewek mah bisa apa. Haha.

Karena mimpiku ingin jadi teknisi handal, sampai-sampai ketika ujian praktek bisa nangis karena gagal uji coba bikin partisi hardisk. Gagal oh gagal. Sampai aku kayak orang hilang gitu. Haha. Keren kan!!!

Karena ingin jadi ahli IT sampai ingin banget kuliah di kampus ternama di Indonesia jurusan Teknik Informatika. Padahal aku nggak pinter juga terus sekolahnya di swasta. Ngaca deh aku. Aku PD banget waktu itu. Kayak yakin bisa ketrima di kampus itu.Eeeh, Alhamdulillah nggak ketrima. Aku terlalu tinggi banget mengharapnya. Padahal aku jelas-jelas kurang mampu (pemikirannya) jika masuk kampus tersebut.

Apa nama kampusnya?

I Te eS

Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya

Kebayang nggak gimana rasanya hatiku waktu itu. Ya jelas nggak diterima laah. Anak yang biasa, sekolahnya juga swasta, mau masuk PTN ya butuh perjuangan banget. Harus belajar ekstra buat bisa masuk kesana.

Jreenngg…

Aku terlalu menyalahkan diri sendiri. Kenapa aku dulu nggak masuk SMA Negeri aja biar aku bisa masuk ITS? Kenapa dulu aku nggak masuk jurusan IPA aja biar mudah masuk ITS.

Ah, mungkin tak semudah itu aku bisa masuk ITS. Semua itu kan kehendak Allah. Jaidi rezeki itu sudah diatur sama Allah. Dan aku nggak boleh menyerah gitu aja.

Eh, ketika aku bingung nyari kampus buat kuliah, Allah tiba-tiba ngasih aku undangan buat masuk ITS, tapi diploma. Alhamdulillah. Terima aja. Kan tetap aja itu di ITS. Hehe. Jadilah aku mengarungi dunia IT lagi.

Dulu, aku kira di jurusan Teknik Informatika itu akan semudah yang kubayangkan ketika SMK. Wah, ternyata jauh dari obsesi. Dan aku mulai bisa berfikir, ternyata kuliah tak semudah waktu SMK. Jadi aku harus benar-benar belajar dengan rajin supaya aku tak tertinggal dengan temanku lainnya di kelas.

Karena sudah tau sekilas tentang dunia IT, aku beralih cita-cita. Aku ingin jadi seorang wirausahawan. Jadi aku harus belajar bisnis. Dan akhirnya aku memutuskan kuliah ambil manajemen agar sejalur dengan cita-citaku, pikirku.

Tapi, sejauh apapun aku menuliskan dan mentargetkan cita-citaku akan tgerkalahkan dengan scenario Allah yang sudah DIA tuliskan untukku. Dan sebaik-baik cita-cita dan profesi seorang wanita adalah menjadi istri sholihah dan ibu terbaik bagi anak-anaknya.

Maka dari itu, selagi masih muda aku ingin menimba ilmu sebelum ada yang datng ke rumah (tukang bakso).


Ah, maafkan aku ya semuanya. Perasaan pas nulis masih nggak jelas jalannya kemana. Maklum aku masih belajar nulis ini. Masih merangkak untuk berkarya. Setidaknya aku sudah menuliskan beberapa kata saja. Terima kasih sudah membaca tulisan yang jauh dari kata baik ini. Semoga bermanfaat.
Read More

Wednesday, January 17, 2018

Maafkan Kakak, Dik




Dik, dulu semasih kamu di kandungan kakak selalu menanyakan keadaanmu dan jenis kelaminmu. Kakak ingin sekali punya adik laki-laki sedangkan mbak Anik ingin punya adik perempuan lagi. Bapak dan ibu pun sudah lama ingin punya anak laki-laki karena biar ada penerusnya bapak gitu. Hehe.

Alhamdulillah tengah malam itu kakak dibangunkan oleh bibi dan dapat kabar kalau adik sudah lahir. Masyaa Allah, kakak senaangnya bukan main. Kakak nggak bisa tidur setelah mendengar tangisanmu yang memecahkan suasana malam itu. Ibu tak perlu ke Rumah Sakit untuk melahirkanmu dek, ada bu bidan yang siap membantu persalinanmu waktu itu.

Setelah proses persalinan itu, adik digendong simbah. Ibu diangkat menuju kamar tidur, dibaringkan dan kepalanya disandarkan ke papan, kemudian kakinya diselonjorkan juga. Lalu bapak menggendongmu dan memperlihatkanmu pada ibu.

Ketika itu ibu masih belum bisa menyusuimu, karena air teteknya belum bisa keluar pasca kelahiran. Dan akhirnya kakak disuruh membuatkan wedang gula. Kakak pun melaksankan perintah bapak dengan sangat senang. Kakak jalan menuju dapur, dua sendok makan gula dicampur dengan air panas. Menungggu biar dingin sembari memandangi wajahmu dan mengajakmu berbicara. Setelah dingin, kakak yang menyuapimu minum. Kakak seneng banget melihat begitu lahapnya ketika minum.

Kakak yang paling sering menjagamu, sedangkan mbak lebih memilih kegiatan lain. Kakak paling sayang dengan adik. Kemanapun kakak pergi pasti nggak lupa cium adik dulu. Rasanya ada yang kurang jika belum cium adik dulu.
Semakin bertambahnya usiamu dik, sayang kakak ke adik masih tetap sama. Maafkan kakak ya, jika selama ini kakak masih belum bisa menjadi panutan yang baik.

Tidak terasa sekarang adik sudah segedhe ini :



Dulu adik yang selalu godain kakak, sering bikin kakak jengkel dan marah. Sekarang sudah segedhe ini. Sekarang sudah SMP saja, padahaal rasanya baru saja kemarin kakak bermain dengan adik. Kakak kangen dek. Hehe.

Sekolahnya yang rajin ya dik. Ngajinya jangan lupa meskipun ada jadwal ngajar PSHT. Tetap semangat menuntut ilmu ya dek. Katanya adik ingin kuliah di ITS. Pasti adik bisaa kok. Kakak hanya bisa mendo’akanmu, menyemangatimu dari sini. Kalau butuh apapun, kakak siap bantu.

Sukses selalu ya dik. Maafkan kakak jika selama ini kakak banyak salah ke adik. Kakak masih belum bisa jadi panutan yang baik buat adik. Pokoknya sukses selaalu buat adik.

I Love You Adikku Bayu Saputra
Read More

Sunday, April 16, 2017

Jangan dibaca, nanti BAPER !

Read More

Thursday, December 1, 2016

Perjalanan Gathering Nasional KLIK

Surabaya, 14-16 September 2016

Pengurus KLIK Surabaya dan perwakilan KLIK Malang

Tidak ada WhatsApp, SMS pun jadi. Alhamdulillah aku masih bisa koordinasi dengan teman-teman pengurus KLIK Surabaya walaupun tidak bisa maksimal.

Sebulan lalu seluruh pengurus KLIK Surabaya berencana akan ikut Gathering Nasional yang diadakan di Malang. Ternyata di hari H, hanya enam saja yang bisa hadir. Ada aku (Dwi), Dewi, Liswa, Ria, Asa, pak Zain feat istri. Yang lainnya berhalangan hadir karena ada urusan yang harus diselesaikan.

Jum’at sore, aku dan ketiga temanku akan berangkat ke Malang naik kereta. Pak Zain dan istrinya berangkat mengendarai sepeda motor. Sedangkan Asa berangkat hari sabtu pagi naik kereta juga.

Jadwal keberangkatan kereta jam 20.05. Aku memilih berangkat setelah magrib jam 17.50 karena aku lupa jalan menuju stasiun sehingga aku minta tolong saudaraku untuk mengantarku. Jika berangkat setelah isya’ aku takut kalau macet dan terlambat. Konon jalan menuju stasiun itu rawan macet. Sedangkan mereka bertiga memilih berangkat setelah isya’.

“Dik, segera kesini ya. Setelah sholat langsung berangkat”, kata temanku.

“Oke”, jawabku singkat.

Sempat bingung ketika sudah mendekati jalan menuju stasiun. Antara belok kiri atau kanan. Akhirnya aku memilih belok kanan.

“Nah, ini stasiunnya. Turun sini saja kalau begitu,” kataku sambil menunjuk pintu masuk parkiran samping stasiun.

“Ya sudah. Hati-hati ya dik.”

“Ok. Siap.”

Langkah kakiku sejenak berhenti ketika memasuki parkiran.

“Kok, ada yang aneh ya,”  kataku dalam hati. Langkahku semakin pelan saat aku melihat gerbang utama stasiun. Kuperhatikan baik-baik. Mataku tak kucek-kucek. Kepalaku tak garuk pelan, padahal tidak gatal. Aku mengingat-ingat stasiun yang pernah kudatangi pertama kali dulu.

“Kok begini ya stasiunnya. Perasaan dulu tempat duduknya tidak diluar begini. Tampilannya kok tidak sama dengan stasiun yang pernah kudatangi dulu itu. Loketnya juga beda. Dulu ada mushola di samping sana (tegok-tengok),” sambil duduk mengamati.

“…Atau memang stasiunnya sudah direnovasi ya (manggut-manggut). Teruuuss, kok secepat ini ya renovasinya (gigit jari). Hebat banget. Sssttt… Jangan-jangan…”, aku melongo. “Jangan-jangan sekarang aku berada di stasiun baru. Wah, aku baru sadar ini. Oh Allah. Betapa polosnya aku ini (menelan ludah)”.

Aku segera merogoh HP di tasku. Kucoba untuk menenangkan diri. Segeralah aku mengirimkan pesan ke mbk Liswa. Menanyakan kepastian dimana aku ini berdiri.

“Mbak Lis, stasiun Gubeng itu memangnya ada dua ya? Gubeng Lama dan Gubeng Baru?”
Aku benar-benar tidak tahu.

“Iya mbak. Kenapa?”, balasnya.

“Terus kita nanti berangkat ke Malang naik kereta darimana?”

“Dari Gubeng Lama mbak.”

“Ya Allah. Mbak Liiisss. Kayaknya aku sekarang berada di Gubeng Baru deh.”
Untuk memastikan kebenaran, aku menanyakan kepada petugas yang bersliweran di depanku. Ternyata memang benar dugaanku, aku berada di stasiun baru.

“Yaaah, benar mbak. Aku di stasiun baru. Btw, stasiun baru dan lama itu beda atau  sama? Bersebrangan kah? Aku gimana donk?”, cemasku.

“Tak jemput.”

“Oke deh kalau gitu. Aku menunggu dimana mbak?”
Adzan isya’ berkumandang. Aku masih saja menunggu di kursi tunggu yang disediakan di stasiun.

“Di depan stasiun ya”

“Maksudnya depan gerbang mbak? Sebelah mana ya?”

Duh, polosnya aku ini. Hhhmm, ya bertanya lah pada petugas. Kan ada petugas yang jaga tuh. #TepokJidat.

“Eh, gak jadi mbak. Aku sudah bertanya pada petugas. Oke. Aku tunggu di depan ya.”

“Iya. Aku otw.”

Tanpa pikir panjang, aku segera bergegas menuju gerbang depan stasiun. Sesampainya, aku berdiri di pinggir jalan tepat pintu masuk ke stasiun. Berkali-kali sopir taksi dan tukang becak menghampiriku untuk menawarkan jasanya. Aku bilang kepada mereka bahwa aku sedang menunggu jemputan teman.

Kulihat masih jam 19.15. Tenang, baru 15 menit aku menunggu.

“Mungkin sebentar lagi datang. Kan bersebrangan stasiunnya.” Pikirku.

Kulihat lagi, sudah jam 19.30.

“Wah, 30 menit lagi. Kok belum datang ya.” harap-harap cemas.

Segera kulayangkan SMS ke mbak Ria.

“Mbak, kereta berangkat jam berapa?”

“Jam 20.05. Ini Liswa masih otw. Jangan SMS ya. Dia lagi nyetir soale.”

“Oke mbak. Kutunggu.”

Jam 19.45. kukirimkan pesan lagi ke mbak Ria.

“Mbak, kok belum datang juga ya. 20 menit lagi loh.”

“Tunggu dek. Jalanan masih macet.”

“Iya deh mbak.”

Jam 19.50. Jantungku berdetak cepat. Kurang 15 menit lagi kereta kan melaju. Tapi mbak Liswa belum juga muncul. Ya Allah. Aku hanya bisa berserah diri pada-MU.

Tepat 19.55 mbak Liswa datang.

“Mbak, ayok”

“Iya. Ayok.”

Segeralah aku naik ke motornya.

“Kurang berapa menit mbak Dwi?”

“10 menit lagi mbak”

“Oke. Maaf ya kalau ngebut.”

“Iya. Gpp.”

100 meter dari titik aku berdiri tadi, kepalaku tak pegang. Ya Allah. Ternyata aku tidak pakai helm. Wah. Mungkin mbak Liswa lupa ngasihkan helmnya.

Kulihat arah depan bawah motor mbak Liswa. Tidak ada helm yang menggantung di motornya. Aku mau bertanya tak urungkan karena ia sedang ngebut. Ya sudahlah. Bismillah. Semoga tidak ada polisi.

Ketika akan melewati rel, tiba-tiba palang kereta tertutup. Jantungku dag dig dug.

            “Mbak, jangan-jangaaan, kereta yang mau kita naiki mau lewat ini mbak. Wah, gimana ini?”

            “Alamat mbak, kita berangkat besok kalau misal sudah berangkat keretanya.”

Aku terus melantunkan sholawat Nabi. Jantungku benar-benar masih berdegup. Palang sudah terbuka, ternyata hanya kepala kereta saja yang lewat. Nah, ketika kita sampai di tengah-tengah rel, tiba-tiba palang akan menutup lagi. Ayooo mbak sedikit lagiii. Seruku. Alhamdulillah aku tidak sampai terjebak di tengah rel. Rintangan akhirnya terlewati.

            “Jangan-jangan yang mau lewat itu adalah kereta tujuan malang, mbak,” seruku lagi.  Tanpa ada jawaban dari mbak Liswa.

Sedari tadi kepalaku tak pegang terus. Ketika di tikungan jalan mbak Liswa berkata, “Mbak Dwi gak bawa helm ya? Duh aku sampai lupa.”

            “Hehe, iya mbak. Aku gak bawa helm. Tadi kan aku diantar, jadi helmnya yaa dibawa lagi.”
           
           “Haha, aku lupa bawakan juga. Gak sadar saking mendadaknya.” sahutnya. “Nanti kalau misal kita ketinggalan kereta, kita berangkat besok saja mbak. Tapi kita usahakan kita segera sampai. Semoga tidak terlambat.”
           
           “Iya mbak. Aamiin.”

Sampai di perempatan, jalanan ternyata macet. Katanya ada acara di Grand City. Ketika sampai di tengah jalan, aku disuruh berhenti mbak Liswa. Turun di tengah jalan. Menerobos kemacetan. Aku diturunkan tepat didepan stasiun. Sedangkan mbak Liswa memilih putar balik agar sampai stasiun.

          “Mbak Dwi turun sini saja ya. Mbak nerobos jalanan agar segera sampai. Eman-eman tiketnya. Ntar hangus. Jika aku terlambat, aku tak berangkat besok saja.”
           
          “Iya mbak. Oke. Terus tiketnya?”
          
          “Ada di mbak Ria, mbak. Nanti hubungi mbak Ria ya.”
        
          “Iya mbak,” sahutku sambil lari menerobos kemacetan.

Aku bergegas turun dari motor. Menerobos kemacetan. Menghentikan mobil-mobil yang lewat dengan tanganku. Aku berjalan sekuat tenaga, walaupun saat itu kakiku sedang sakit.

Sampai di depan stasiun. What (menepuk jidat), aku kan gak bawa tiket. Oh ya, aku harus segera menghubungi mbak Ria. Seketika itu pula aku melayangkan pesan ke mbak Ria.

Di depan parkiran terlihat ada wanita yang sedang duduk. Kudatangi dengan lari tergopoh-gopoh dan berharap itu adalah mbak Ria.

Taukah apa yang terjadi? Ternyata itu bukan mbak Ria.

Lalu kubuka pesan dari mbak Ria.

Dhek, tiket kalian tak titipkan pak security yang jaga di depan.

Mataku terbelalak. Aku lari terbirit-birit bak dikejar anjing menuju pintu masuk. Nafasku ngos-ngosan.

            “Pak, apakah tadi ada tiket yang dititipkan?”

            “Iya mbak. Ada. Atas nama Dwi Andayani ya?” sahutnya. “Pak, nambah satu lagi bisa apa 
tidak?”, lanjutnya ke petugas yang di dalam kereta.

            “Iya pak. Dwi Andayani.”

            “Maaf mbak. Kereta sudah jalan.”

            “Yaaahh, ya sudah pak.” Aku langsung lemas. Mencari tempat duduk di dalam stasiun dan 
menenangkan diri. Menarik nafas panjang setelah berlarian.

Para petugas stasiun mulai berkemas. Hari sudah malam. Stasiun mulai sepi. Pintu gerbang ditutup. Aku pun terpaksa menunggu di luar stasiun. Rasanya badanku langsung lemas seketika. Memang belum rezeki untuk berangkat malam itu.

Segeralah aku SMS mbak Liswa. Mengabari bahwa aku sudah terlambat. Aku bingung mau pulang naik apa. Dan mbak Liswa menawariku untuk diboncengnya lagi. Alhamdulillah.

Lima menit kemudian.

        “Mbak, ayoo,” panggilnya menggungah lamunanku. “Waah, sendirian. Menunggu sampai stasiunnya tutup. Memang berangkat jam berapa mbak?” ledeknya dengan tertawa kecil.

            “Eh, iya mbak. Ayoo. Hiiikkss, aku sendirian. Berangkat jam 6 bisa terlambat,” nyengir lalu tertawa.

Hari ini memang banyak sekali pengalaman-pengalaman yang tak kan pernah kulupa. Pengalaman yang paling mengesankan selama aku di Surabaya ini. Ya, baru kali ini aku bisa terlambat naik kendaraan. Rasnya sesuatu sekali, karena aku tidak terbiasa terlambat dalam hal apapaun.

Di perjalanan pulang menuju kontrakannya mbak Liswa, aku sedari tadi senyum-senyum sendiri. Pipiku tak cubit-cubit. Seakan-akan kejadian malam ini seperti mimpi. Begitupun mbak Liswa, ia senyum-senyum juga.

       “Pasti nanti bakalan heboh mbak di kontrakan. Heboh karena kita tidak jadi berangkat,” cetusnya.

            “Hahaha, iya mbak. Pasti itu”.

            “Eh, bagaimana kalau besok kita naik sepeda motor saja mbak?”

            “Hhmm, tapi aku tidak punya SIM mbak. Mbak punya kan?”

            “Punya mbak. Tapi motorku gak kuat di jalanan menanjak mbak.”

            “Hhhmm, pakai motorku aja mbak. Kuat kok mbak.”

            “Oke deh kalau gitu. Berarti kita sekarang menuju Masjid Manarul, ngambil motormu dulu ya mbak.”

            “Iya.”

Sampai di Manarul, aku  ditanyai mengapa bisa sampai terlambat naik kereta. Saudaraku tertawa setelah tau ceritaku. Ia geleng-geleng kepala. Ia pun meledekku.

Perutku berontak. Memanggil-manggil pemiliknya untuk diisi. Kupegang perutku. Belum terisi. Segeralaha aku pulang dan beli makan. Malam itu aku memilih untuk menginap di kontrakan mbak Liswa agar besok bisa berangkat bersama dan tidak terlambat.

Saat kami berdua beli makan. Mbak liswa bertemu negan teman kostnya. Temannya kaget dan spontan bertanya. Mbak Liswa pun menceritakan kejadian yang kami alami Ia tertawa dan geleng-geleng kepala. Begitu pula sampai di kostnya mbak Liswa, ia mendadak jadi narasumber.

Setelah selesai menceritakan semua kejadian malam ini, mbak Liswa chattingan di grup whatsapp KLIK Surabaya. Menceritakan kejadian yang terjadi tadi.

Heboh sekali malam ini. Ternyata tidak hanya aku dan mbak Liswa saja yang mengalami kejadian miris ini. Mbak Dewi dan mbak Ria juga mengalami kejadian miris.

Ceritanya, mbak Dewi menabrak tong sampah ketika ia lari menuju stasiun. Ia lari karena sebentar 
lagi kereta melaju. Saat itu pula ada bapak-bapak yang bilang, “Wedhus (bin : kambing). Seketika itu pula langkah mbak Dewi dan mbak Ria berhenti. Mereka berdua hanya bilang minta maaf lalu pergi. Bapaknya mengatakan ‘wedhus’ lagi.

Beda lagi dengan mbak Ria. Ketika mereka berdua sudah sampai di stasiun Malang, mereka menunggu jemputan. Tengah malam mereka hanya berdua dan ditemani dua sejoli. Uhuyy, jangan baper yaah.

Katanya sopir yang akan menjemput, sebentar lagi ia kan datang. Mbak Ria dan mbak Dewi girang sekali mendengarnya. Lalu mbak Ria beranjak dari tempat duduknya. Ia melihat ada mobil Avanza putih yang baru datang dan tengah akan parkir di dekat stasiun. Mbak Ria menunjukkan hal itu pada mbak Dewi.

Mbak Ria senangnya bukan kepalang. Ia harap segera merebahkan tubuhnya di kasur. Duh, senangnya.

Ia pun lari dan menyeret mbak Dewi. Ia ingin segera masuk mobil. Nah, ketika sampai di samping mobil, ia berkaca-kaca di kaca mobil. Duh, aku bingung berkata-kata. Saat itu, pak sopir yang mengendarai mobil itu turun.

“Mbak, itu siapa. Kok sopirnya bukan mas Icik?” sambil menutup mulut dan bicara pelan.

“Duh, iya dek. Kayaknya ini bukan mobil yang mau menjemput kita deh.”

“Wah, yuukk mbak kita pergi”

Akhirnya mereka beranjak pergi dari mobil itu. Dan tak lama kemudian mobil dari KLIK Malang telah datang. Mbak Ria malu bukan kepalang. Hahaha.

Lain lagi kejadiannya Asa. Ketika perjalanan naik kereta menuju Malang, orang yang duduk bersebrangan dengan kursinya ada bapak-bapak yang tidurnya mendengkur alias ngorok. Disitulah ia merasa tidak nyaman. Lalu ia mengirim pesan di WA, grup KLIK Surabaya.

“Pagi-pagi sudah ada grandong,” kata Asa.

Serentak, aku dan mbak Liswa yang duduknya dibelkang Asa langsung tertawa. Ya Allah, bapak itu dikatakan grandong. Sungguh teganya dikau Sa. Aku hanya membatin saja.

Memang, sepanjang perjalanan itu bapaknya mendengkur terus. Ketika ia dibangunkan untuk pengecekan tiket, ia sama sekali tidak bangun. Ketika dibangunkan malah suaranya semakin keras. Siapa yang tidak tertawa. Hahaha. Ini suasanan perjalanan yang mungkin tak akan terlupakan.

***
Ada-ada saja pengurus KLIK Surabaya ini. Setiap pengurus pasti ada saja kejadian miris yang dialami. Kalau teringat akan kejadian ini pasti rasanya ingin tertawa. Karena ini adalah kejadian yang semasa hidupku baru pertama kalinya aku mengalami. Semoga kedepannya aku tidka mengulanginya lagi.

Itulah sedikit coretaan penaku. Dwi Andayani. Pengurus KLIK Surabaya. Mungkin tulisannya masih belum beraturan. Maafkan. Aku masih belajar menulis kawan. 

Subhanallah. Alhamdulillah. Allahu Akbar. Perjalanan kami (Pengurus KLIK Surabaya) berjalan dengan penuh perjuangan. Dan akhirnya kami dipertemukan dengan saudara-saudara KLIK dari berbagai daerah. Seluruh pengurus KLIK Indonesia berkumpul jadi satu di Villa Putih Batu. Kami benar-benar meraasakan kekeluargaan itu. Banyak pelajaran kami dapatkan dari pertemuan itu. Semoga tahun depan, 2017  nanti kita bisa berkumpul lagi di Surabaya. Aamiin.
Read More

Lembaran 212

Lembaran 212

Bertepatan dengan hari jum’at. Hari dimana pahala berlipat. Dihari jum’at ini juga dianjurkan untuk memperbanyak sholawat. Duh, senangnya jika datang hari jum’at. Hari spesial yang katanya juga dianggap hari keramat.

Ada yang bilang bahwa hari jum’at adalah hari pendek. Anak sekolah dipulangkan lebih awal. Jika sudah waktunya masuk sholat jum’at, para pekerja berhenti dari aktivitasnya. Kurang lebih satu jam pelaksanaannya. Mungkin dari sinilah hari jum’at dianggap hari pendek.

Hari ini bertepatan dengan Aksi 212 di Tugu Monas, Jakarta, aku milad yang ke-21. Tahun-tahun sebelumnya tidak ada moment-moment yang membersamai hari miladku. Hari dimana aku dilahirkan ke dunia. Jadi terharu.

Sebelumnya, aku sempat terssentak ketika ada yang bilang bakal ada Aksi 212 di Jakarta. Aku bertanya-tanya pada teman-teman, ternyata Aksi 212 adalah aksi bela Islam yang ke III yang bertepatan dengan hari Jum’at, 2 Desember 2016, tepat tanggal lahirku.

Ketika kebanyakan orang merayakan milad dengan memotong kue, mengadakan pesta, dan kegiatan lainnya. Disini aku hanya bisa menengadahkan tangan, lalu sujud syukur karena masih diberikan umur panjang untuk bisa menjadi khalifah dimuka bumi ini.

Disana, di Jakarta ada aksi 212. Aku hanya bisa mendo’akan dari tempatku berdiri ini. Semoga aksi 212 diberikan kemudaahan, kelancaran dan selalu dalam lindungan-NYA. Semoga saudara-saudaraku disana terselamatkan dan terhindar dari marabahaya. Selamat berjuang wahai saudaraku yang di Jakarta.

“Tidak ada perayaan khusus ketika milad, lhaa wong di Jakarta ada Aksi 212. Itu sudah menjadi saksi peralihan usiamu. Nanti tinggal minta tolong ustad disana untuk mendo’akanmu. Berhenti sejenak untuk potong kue,” hibur seorang temanku kemarin, 1 Desember 2016.

Belum banyak hal yang bisa aku lakukan. Aku belum bisa menjadi yang terbaik. Tapi aku akan berusaha menjadi yang terbaik. Bicara masalah agama, aku juga masih belum banyak ilmu yang kupelajari. InsyaAllah aku akan terus belajar Islam sampai malaikat pencabut nyawa menjemputku. Aamiin.

Saat peralihan usia yang bertepatan dengan Aksi 212, aku belum bisa ikut berpartisipasi ke Jakarta. Aku merasa bahwa aku belum bisa apa-apa. Mungkin aku nanti akan cari wifi lalu streaming untuk menyaksikan langsung apa yang terjadi di Jakarta.

“Tidak harus kesana untuk berpartisipasi. Cukup do’akan mereka yang ada disana. InsyaaAllah itu sudah mewakili,” kata temanku menyemangati.

Alhamdulillah selalu ada jalan disetiap kesulitan. ALLAH selalu membukakan pintu rezeki dari arah mana saja. Ketika tidak ada paketan, ada wifi gratis yang disediakan. Duh, senangnya hatiku.

Tidak banyak hal yang mampu aku tuliskan.

Maafkan jika tulisanku tidak beraturan.

Karena aku masih belajar menuangkan isi hati ke tulisan.

Cukup ku katakan, “Perayaan miladku dirayakan oleh ratusan muslim di Jakakarta. Ini spesial banget. ALLAH berikan aku kejutan yang tak terduga. Semoga aku bisa menjadi anak yang sholihah dan istri sholihah (Eh, yang ini masih menunggu antrian dari ALLAH). Aamiin.”
Read More

© Seberkas Cahaya, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena