Sunday, April 16, 2017
Thursday, December 1, 2016
Perjalanan Gathering Nasional KLIK
Surabaya, 14-16 September 2016
Pengurus KLIK Surabaya dan perwakilan KLIK Malang
Tidak ada WhatsApp, SMS pun jadi.
Alhamdulillah aku masih bisa koordinasi dengan teman-teman pengurus KLIK
Surabaya walaupun tidak bisa maksimal.
Sebulan lalu seluruh pengurus
KLIK Surabaya berencana akan ikut Gathering Nasional yang diadakan di Malang.
Ternyata di hari H, hanya enam saja yang bisa hadir. Ada aku (Dwi), Dewi,
Liswa, Ria, Asa, pak Zain feat istri.
Yang lainnya berhalangan hadir karena ada urusan yang harus diselesaikan.
Jum’at sore, aku dan ketiga
temanku akan berangkat ke Malang naik kereta. Pak Zain dan istrinya berangkat
mengendarai sepeda motor. Sedangkan Asa berangkat hari sabtu pagi naik kereta
juga.
Jadwal keberangkatan kereta jam
20.05. Aku memilih berangkat setelah magrib jam 17.50 karena aku lupa jalan
menuju stasiun sehingga aku minta tolong saudaraku untuk mengantarku. Jika
berangkat setelah isya’ aku takut kalau macet dan terlambat. Konon jalan menuju
stasiun itu rawan macet. Sedangkan mereka bertiga memilih berangkat setelah
isya’.
“Dik, segera
kesini ya. Setelah sholat langsung berangkat”, kata temanku.
“Oke”, jawabku
singkat.
Sempat bingung ketika sudah
mendekati jalan menuju stasiun. Antara belok kiri atau kanan. Akhirnya aku
memilih belok kanan.
“Nah, ini
stasiunnya. Turun sini saja kalau begitu,” kataku sambil menunjuk pintu masuk
parkiran samping stasiun.
“Ya sudah.
Hati-hati ya dik.”
“Ok. Siap.”
Langkah kakiku sejenak berhenti
ketika memasuki parkiran.
“Kok, ada yang aneh ya,” kataku dalam hati. Langkahku semakin pelan
saat aku melihat gerbang utama stasiun. Kuperhatikan baik-baik. Mataku tak
kucek-kucek. Kepalaku tak garuk pelan, padahal tidak gatal. Aku mengingat-ingat
stasiun yang pernah kudatangi pertama kali dulu.
“Kok begini ya stasiunnya. Perasaan dulu tempat duduknya tidak diluar
begini. Tampilannya kok tidak sama dengan stasiun yang pernah kudatangi dulu
itu. Loketnya juga beda. Dulu ada mushola di samping sana (tegok-tengok),” sambil
duduk mengamati.
“…Atau memang stasiunnya sudah direnovasi ya (manggut-manggut).
Teruuuss, kok secepat ini ya renovasinya (gigit jari). Hebat banget. Sssttt…
Jangan-jangan…”, aku melongo. “Jangan-jangan
sekarang aku berada di stasiun baru. Wah, aku baru sadar ini. Oh Allah. Betapa
polosnya aku ini (menelan ludah)”.
Aku segera merogoh HP di tasku.
Kucoba untuk menenangkan diri. Segeralah aku mengirimkan pesan ke mbk Liswa.
Menanyakan kepastian dimana aku ini berdiri.
“Mbak Lis,
stasiun Gubeng itu memangnya ada dua ya? Gubeng Lama dan Gubeng Baru?”
Aku benar-benar tidak tahu.
“Iya mbak.
Kenapa?”, balasnya.
“Terus kita
nanti berangkat ke Malang naik kereta darimana?”
“Dari Gubeng
Lama mbak.”
“Ya Allah.
Mbak Liiisss. Kayaknya aku sekarang berada di Gubeng Baru deh.”
Untuk memastikan kebenaran, aku
menanyakan kepada petugas yang bersliweran di depanku. Ternyata memang benar
dugaanku, aku berada di stasiun baru.
“Yaaah, benar
mbak. Aku di stasiun baru. Btw,
stasiun baru dan lama itu beda atau sama?
Bersebrangan kah? Aku gimana donk?”, cemasku.
“Tak jemput.”
“Oke deh kalau
gitu. Aku menunggu dimana mbak?”
Adzan isya’ berkumandang. Aku
masih saja menunggu di kursi tunggu yang disediakan di stasiun.
“Di depan
stasiun ya”
“Maksudnya
depan gerbang mbak? Sebelah mana ya?”
Duh, polosnya aku ini. Hhhmm, ya bertanya lah pada petugas. Kan ada
petugas yang jaga tuh. #TepokJidat.
“Eh, gak jadi
mbak. Aku sudah bertanya pada petugas. Oke. Aku tunggu di depan ya.”
“Iya. Aku
otw.”
Tanpa pikir panjang, aku segera
bergegas menuju gerbang depan stasiun. Sesampainya, aku berdiri di pinggir
jalan tepat pintu masuk ke stasiun. Berkali-kali sopir taksi dan tukang becak
menghampiriku untuk menawarkan jasanya. Aku bilang kepada mereka bahwa aku
sedang menunggu jemputan teman.
Kulihat masih jam 19.15. Tenang,
baru 15 menit aku menunggu.
“Mungkin sebentar lagi datang. Kan bersebrangan
stasiunnya.” Pikirku.
Kulihat lagi, sudah jam 19.30.
“Wah, 30 menit lagi. Kok belum datang ya.”
harap-harap cemas.
Segera kulayangkan SMS ke mbak
Ria.
“Mbak, kereta
berangkat jam berapa?”
“Jam 20.05.
Ini Liswa masih otw. Jangan SMS ya. Dia lagi nyetir soale.”
“Oke mbak.
Kutunggu.”
Jam 19.45. kukirimkan pesan lagi
ke mbak Ria.
“Mbak, kok
belum datang juga ya. 20 menit lagi loh.”
“Tunggu dek.
Jalanan masih macet.”
“Iya deh
mbak.”
Jam 19.50. Jantungku berdetak
cepat. Kurang 15 menit lagi kereta kan melaju. Tapi mbak Liswa belum juga
muncul. Ya Allah. Aku hanya bisa berserah diri pada-MU.
Tepat 19.55 mbak Liswa datang.
“Mbak, ayok”
“Iya. Ayok.”
Segeralah aku naik ke motornya.
“Kurang berapa
menit mbak Dwi?”
“10 menit lagi
mbak”
“Oke. Maaf ya
kalau ngebut.”
“Iya. Gpp.”
100 meter dari titik aku berdiri
tadi, kepalaku tak pegang. Ya Allah. Ternyata aku tidak pakai helm. Wah.
Mungkin mbak Liswa lupa ngasihkan helmnya.
Kulihat arah depan bawah motor
mbak Liswa. Tidak ada helm yang menggantung di motornya. Aku mau bertanya tak
urungkan karena ia sedang ngebut. Ya sudahlah. Bismillah. Semoga tidak ada
polisi.
Ketika akan melewati rel, tiba-tiba palang
kereta tertutup. Jantungku dag dig dug.
“Mbak,
jangan-jangaaan, kereta yang mau kita naiki mau lewat ini mbak. Wah, gimana
ini?”
“Alamat
mbak, kita berangkat besok kalau misal sudah berangkat keretanya.”
Aku terus melantunkan sholawat
Nabi. Jantungku benar-benar masih berdegup. Palang sudah terbuka, ternyata
hanya kepala kereta saja yang lewat. Nah, ketika kita sampai di tengah-tengah
rel, tiba-tiba palang akan menutup lagi. Ayooo
mbak sedikit lagiii. Seruku. Alhamdulillah aku tidak sampai terjebak di
tengah rel. Rintangan akhirnya terlewati.
“Jangan-jangan
yang mau lewat itu adalah kereta tujuan malang, mbak,” seruku lagi. Tanpa ada jawaban dari mbak Liswa.
Sedari
tadi kepalaku tak pegang terus. Ketika di tikungan jalan mbak Liswa berkata,
“Mbak Dwi gak bawa helm ya? Duh aku sampai lupa.”
“Hehe,
iya mbak. Aku gak bawa helm. Tadi kan aku diantar, jadi helmnya yaa dibawa
lagi.”
“Haha,
aku lupa bawakan juga. Gak sadar saking
mendadaknya.” sahutnya. “Nanti kalau misal kita ketinggalan kereta, kita
berangkat besok saja mbak. Tapi kita usahakan kita segera sampai. Semoga tidak
terlambat.”
“Iya
mbak. Aamiin.”
Sampai di perempatan, jalanan
ternyata macet. Katanya ada acara di Grand City. Ketika sampai di tengah jalan,
aku disuruh berhenti mbak Liswa. Turun di tengah jalan. Menerobos kemacetan.
Aku diturunkan tepat didepan stasiun. Sedangkan mbak Liswa memilih putar balik
agar sampai stasiun.
“Mbak
Dwi turun sini saja ya. Mbak nerobos jalanan agar segera sampai. Eman-eman tiketnya. Ntar hangus. Jika
aku terlambat, aku tak berangkat besok saja.”
“Iya
mbak. Oke. Terus tiketnya?”
“Ada
di mbak Ria, mbak. Nanti hubungi mbak Ria ya.”
“Iya
mbak,” sahutku sambil lari menerobos kemacetan.
Aku bergegas turun dari motor.
Menerobos kemacetan. Menghentikan mobil-mobil yang lewat dengan tanganku. Aku
berjalan sekuat tenaga, walaupun saat itu kakiku sedang sakit.
Sampai di depan stasiun. What (menepuk jidat), aku kan gak bawa
tiket. Oh ya, aku harus segera menghubungi mbak Ria. Seketika itu pula aku
melayangkan pesan ke mbak Ria.
Di depan parkiran terlihat ada
wanita yang sedang duduk. Kudatangi dengan lari tergopoh-gopoh dan berharap itu
adalah mbak Ria.
Taukah apa yang terjadi? Ternyata
itu bukan mbak Ria.
Lalu kubuka pesan dari mbak Ria.
Dhek, tiket kalian tak titipkan pak security yang jaga di depan.
Mataku terbelalak. Aku lari
terbirit-birit bak dikejar anjing menuju pintu masuk. Nafasku ngos-ngosan.
“Pak,
apakah tadi ada tiket yang dititipkan?”
“Iya
mbak. Ada. Atas nama Dwi Andayani ya?” sahutnya. “Pak, nambah satu lagi bisa
apa
tidak?”, lanjutnya ke petugas yang di dalam kereta.
“Iya
pak. Dwi Andayani.”
“Maaf
mbak. Kereta sudah jalan.”
“Yaaahh,
ya sudah pak.” Aku langsung lemas. Mencari tempat duduk di dalam stasiun dan
menenangkan diri. Menarik nafas panjang setelah berlarian.
Para petugas stasiun mulai
berkemas. Hari sudah malam. Stasiun mulai sepi. Pintu gerbang ditutup. Aku pun
terpaksa menunggu di luar stasiun. Rasanya badanku langsung lemas seketika.
Memang belum rezeki untuk berangkat malam itu.
Segeralah aku SMS mbak Liswa.
Mengabari bahwa aku sudah terlambat. Aku bingung mau pulang naik apa. Dan mbak
Liswa menawariku untuk diboncengnya lagi. Alhamdulillah.
Lima menit kemudian.
“Mbak,
ayoo,” panggilnya menggungah lamunanku. “Waah, sendirian. Menunggu sampai stasiunnya tutup. Memang berangkat jam berapa mbak?” ledeknya dengan tertawa
kecil.
“Eh,
iya mbak. Ayoo. Hiiikkss, aku
sendirian. Berangkat jam 6 bisa terlambat,” nyengir lalu tertawa.
Hari ini memang banyak sekali
pengalaman-pengalaman yang tak kan pernah kulupa. Pengalaman yang paling
mengesankan selama aku di Surabaya ini. Ya, baru kali ini aku bisa terlambat
naik kendaraan. Rasnya sesuatu sekali, karena aku tidak terbiasa terlambat
dalam hal apapaun.
Di perjalanan pulang menuju
kontrakannya mbak Liswa, aku sedari tadi senyum-senyum sendiri. Pipiku tak
cubit-cubit. Seakan-akan kejadian malam ini seperti mimpi. Begitupun mbak
Liswa, ia senyum-senyum juga.
“Pasti
nanti bakalan heboh mbak di kontrakan. Heboh karena kita tidak jadi berangkat,” cetusnya.
“Hahaha,
iya mbak. Pasti itu”.
“Eh,
bagaimana kalau besok kita naik sepeda motor saja mbak?”
“Hhmm,
tapi aku tidak punya SIM mbak. Mbak punya kan?”
“Punya
mbak. Tapi motorku gak kuat di jalanan menanjak mbak.”
“Hhhmm,
pakai motorku aja mbak. Kuat kok mbak.”
“Oke
deh kalau gitu. Berarti kita sekarang menuju Masjid Manarul, ngambil motormu
dulu ya mbak.”
“Iya.”
Sampai di Manarul, aku ditanyai mengapa bisa sampai terlambat naik
kereta. Saudaraku tertawa setelah tau ceritaku. Ia geleng-geleng kepala. Ia pun
meledekku.
Perutku berontak.
Memanggil-manggil pemiliknya untuk diisi. Kupegang perutku. Belum terisi.
Segeralaha aku pulang dan beli makan. Malam itu aku memilih untuk menginap di
kontrakan mbak Liswa agar besok bisa berangkat bersama dan tidak terlambat.
Saat kami berdua beli makan. Mbak
liswa bertemu negan teman kostnya. Temannya kaget dan spontan bertanya. Mbak
Liswa pun menceritakan kejadian yang kami alami Ia tertawa dan geleng-geleng
kepala. Begitu pula sampai di kostnya mbak Liswa, ia mendadak jadi narasumber.
Setelah selesai menceritakan
semua kejadian malam ini, mbak Liswa chattingan
di grup whatsapp KLIK Surabaya.
Menceritakan kejadian yang terjadi tadi.
Heboh sekali malam ini. Ternyata
tidak hanya aku dan mbak Liswa saja yang mengalami kejadian miris ini. Mbak
Dewi dan mbak Ria juga mengalami kejadian miris.
Ceritanya, mbak Dewi menabrak
tong sampah ketika ia lari menuju stasiun. Ia lari karena sebentar
lagi kereta
melaju. Saat itu pula ada bapak-bapak yang bilang, “Wedhus (bin : kambing)”.
Seketika itu pula langkah mbak Dewi dan mbak Ria berhenti. Mereka berdua hanya
bilang minta maaf lalu pergi. Bapaknya mengatakan ‘wedhus’ lagi.
Beda lagi dengan mbak Ria. Ketika
mereka berdua sudah sampai di stasiun Malang, mereka menunggu jemputan. Tengah
malam mereka hanya berdua dan ditemani dua sejoli. Uhuyy, jangan baper yaah.
Katanya sopir yang akan
menjemput, sebentar lagi ia kan datang. Mbak Ria dan mbak Dewi girang sekali
mendengarnya. Lalu mbak Ria beranjak dari tempat duduknya. Ia melihat ada mobil
Avanza putih yang baru datang dan tengah akan parkir di dekat stasiun. Mbak Ria
menunjukkan hal itu pada mbak Dewi.
Mbak Ria senangnya bukan
kepalang. Ia harap segera merebahkan tubuhnya di kasur. Duh, senangnya.
Ia pun lari dan menyeret mbak
Dewi. Ia ingin segera masuk mobil. Nah, ketika sampai di samping mobil, ia
berkaca-kaca di kaca mobil. Duh, aku
bingung berkata-kata. Saat itu, pak sopir yang mengendarai mobil itu turun.
“Mbak, itu
siapa. Kok sopirnya bukan mas Icik?” sambil menutup mulut dan bicara pelan.
“Duh, iya dek.
Kayaknya ini bukan mobil yang mau menjemput kita deh.”
“Wah, yuukk
mbak kita pergi”
Akhirnya mereka beranjak pergi
dari mobil itu. Dan tak lama kemudian mobil dari KLIK Malang telah datang. Mbak
Ria malu bukan kepalang. Hahaha.
Lain lagi kejadiannya Asa. Ketika
perjalanan naik kereta menuju Malang, orang yang duduk bersebrangan dengan
kursinya ada bapak-bapak yang tidurnya mendengkur alias ngorok. Disitulah ia merasa tidak nyaman. Lalu ia mengirim pesan di
WA, grup KLIK Surabaya.
“Pagi-pagi
sudah ada grandong,” kata Asa.
Serentak, aku dan mbak Liswa yang
duduknya dibelkang Asa langsung tertawa. Ya
Allah, bapak itu dikatakan grandong. Sungguh teganya dikau Sa. Aku hanya
membatin saja.
Memang, sepanjang perjalanan itu
bapaknya mendengkur terus. Ketika ia dibangunkan untuk pengecekan tiket, ia
sama sekali tidak bangun. Ketika dibangunkan malah suaranya semakin keras.
Siapa yang tidak tertawa. Hahaha. Ini
suasanan perjalanan yang mungkin tak akan terlupakan.
***
Ada-ada saja pengurus KLIK
Surabaya ini. Setiap pengurus pasti ada saja kejadian miris yang dialami. Kalau
teringat akan kejadian ini pasti rasanya ingin tertawa. Karena ini adalah
kejadian yang semasa hidupku baru pertama kalinya aku mengalami. Semoga
kedepannya aku tidka mengulanginya lagi.
Itulah sedikit coretaan penaku. Dwi Andayani. Pengurus KLIK Surabaya. Mungkin tulisannya masih belum beraturan. Maafkan. Aku masih belajar menulis kawan.
Subhanallah. Alhamdulillah. Allahu Akbar. Perjalanan kami (Pengurus
KLIK Surabaya) berjalan dengan penuh perjuangan. Dan akhirnya kami dipertemukan
dengan saudara-saudara KLIK dari berbagai daerah. Seluruh pengurus KLIK
Indonesia berkumpul jadi satu di Villa Putih Batu. Kami benar-benar meraasakan
kekeluargaan itu. Banyak pelajaran kami dapatkan dari pertemuan itu. Semoga
tahun depan, 2017 nanti kita bisa
berkumpul lagi di Surabaya. Aamiin.
Lembaran 212
Lembaran 212
Bertepatan dengan hari jum’at.
Hari dimana pahala berlipat. Dihari jum’at ini juga dianjurkan untuk
memperbanyak sholawat. Duh, senangnya jika datang hari jum’at. Hari spesial
yang katanya juga dianggap hari keramat.
Ada yang bilang bahwa hari jum’at
adalah hari pendek. Anak sekolah dipulangkan lebih awal. Jika sudah waktunya
masuk sholat jum’at, para pekerja berhenti dari aktivitasnya. Kurang lebih satu
jam pelaksanaannya. Mungkin dari sinilah hari jum’at dianggap hari pendek.
Hari ini bertepatan dengan Aksi
212 di Tugu Monas, Jakarta, aku milad yang ke-21. Tahun-tahun sebelumnya tidak
ada moment-moment yang membersamai hari miladku. Hari dimana aku dilahirkan ke
dunia. Jadi terharu.
Sebelumnya, aku sempat terssentak
ketika ada yang bilang bakal ada Aksi 212 di Jakarta. Aku bertanya-tanya pada
teman-teman, ternyata Aksi 212 adalah aksi bela Islam yang ke III yang
bertepatan dengan hari Jum’at, 2 Desember 2016, tepat tanggal lahirku.
Ketika kebanyakan orang merayakan
milad dengan memotong kue, mengadakan pesta, dan kegiatan lainnya. Disini aku
hanya bisa menengadahkan tangan, lalu sujud syukur karena masih diberikan umur
panjang untuk bisa menjadi khalifah dimuka bumi ini.
Disana, di Jakarta ada aksi 212.
Aku hanya bisa mendo’akan dari tempatku berdiri ini. Semoga aksi 212 diberikan
kemudaahan, kelancaran dan selalu dalam lindungan-NYA. Semoga saudara-saudaraku
disana terselamatkan dan terhindar dari marabahaya. Selamat berjuang wahai
saudaraku yang di Jakarta.
“Tidak ada perayaan khusus ketika milad, lhaa wong di Jakarta ada Aksi
212. Itu sudah menjadi saksi peralihan usiamu. Nanti tinggal minta tolong ustad
disana untuk mendo’akanmu. Berhenti sejenak untuk potong kue,” hibur seorang
temanku kemarin, 1 Desember 2016.
Belum banyak hal yang bisa aku
lakukan. Aku belum bisa menjadi yang terbaik. Tapi aku akan berusaha menjadi
yang terbaik. Bicara masalah agama, aku juga masih belum banyak ilmu yang
kupelajari. InsyaAllah aku akan terus belajar Islam sampai malaikat pencabut
nyawa menjemputku. Aamiin.
Saat peralihan usia yang
bertepatan dengan Aksi 212, aku belum bisa ikut berpartisipasi ke Jakarta. Aku
merasa bahwa aku belum bisa apa-apa. Mungkin aku nanti akan cari wifi lalu streaming untuk menyaksikan langsung apa yang terjadi di Jakarta.
“Tidak harus kesana untuk berpartisipasi. Cukup do’akan mereka yang ada
disana. InsyaaAllah itu sudah mewakili,” kata temanku menyemangati.
Alhamdulillah selalu ada jalan
disetiap kesulitan. ALLAH selalu membukakan pintu rezeki dari arah mana saja.
Ketika tidak ada paketan, ada wifi
gratis yang disediakan. Duh, senangnya hatiku.
Tidak banyak hal yang mampu aku
tuliskan.
Maafkan jika tulisanku tidak
beraturan.
Karena aku masih belajar
menuangkan isi hati ke tulisan.
Cukup ku katakan, “Perayaan
miladku dirayakan oleh ratusan muslim di Jakakarta. Ini spesial banget. ALLAH
berikan aku kejutan yang tak terduga. Semoga aku bisa menjadi anak yang
sholihah dan istri sholihah (Eh, yang ini
masih menunggu antrian dari ALLAH). Aamiin.”
Tuesday, November 29, 2016
My Dream
My Dream
Pagi
itu membuatku merasakan indahnya dunia di kala mentari akan menampakkan
sinarnya. Hati pun terasa gembira saat ku akan melangkah untuk menggapai
mimpi-mimpi yang selama ini ku harapkan. Ketika ku gagal dalam menggapai mimpi
itu, mungkin Allah sedang mengujiku dan DIA sedang merajut benang-benang
keindahan untukku. Dan ketika mimpiku berhasil ku gapai, Allah telah membukakan
pintu rezeki untukku.
Dengan
penuh semangat, ku mencoba mengikuti lomba menulis cerpen di sekolahku.
Akhirnya keesokan harinya mulailah ku menuliskan cerpen di atas kertas
berwarna-warni. Warna-warna itulah yang membuatku senang dalam menulis, karena
dengan warna aku akan lebih bisa berimajinasi dan bisa konsentrasi. Dua hari
kemudian ku mengetik naskah cerpen tersebut, dan keesokan harinya aku
mengumpulkannya ke panitia.
Satu
minggu kemudian…………..
Dengan
raut wajah yang penuh dengan kecemasan, ku mencoba untuk melangkah menuju
sekolah tercinta. Karena pada saat itu, ku sedang menunggu hasil pemenang lomba
cerpen tingkat sekolah. Sampai di sekolah aku langsung menuju pengumuman yang
di pasang di mading depan perpustakaan sekolah. Ku melihat hasilnya dari bawah,
karena aku merasa mungkin aku dapat penilaian terendah. Peserta yang ikut pada
waktu itu adalh 200 siswa dan yang terpilih tahap pertama ada 50, setelah itu
seleksi tahap kedua hanya 10 dan yang terakhir hanya terpilih 3 saja. Dengan
penuh kecemasan, ku telusuri dari bawah ke atas dengan teliti,ku baca satu per
satu. Sampai di tengah-tengah, aku hampir putus asa, karena nama dan judul
cerpenkuku belum ku temukan di pengumuman itu. Tapi setelah aku berfikir-fikir
tak ada salahnya ku membacanya sampai atas biar aku tahu siapa yang lolos
seleksi. Ku bangkitkan semangatku untuk membacanya, dan akhirnya ku temukan juga
nama dan judul cerpenku. Alhamdulillah aku di urutan nomor tiga.
Hati
pun merasa lega, aku pun merasa senang. Tapi aku tidak boleh bangga, karena
masih ada 2 tahap lagi untuk menjadi pemenang. Tahap pertama aku sudah
berhasil, sekarang aku akan menuju tahap kedua. Aku harus semakin teliti dan
cermat dalam menulis, Karena ku ingin mencoba kemampuanku dalam menulis, dan
akhirnya nanti ku bisa mengukur sampai mana kemampuanku dalam menulis.
Waktu
yang disediakan panitia dalam penilaian tahap kedua adalah 3 hari dengan
ketentuan jumlah halamannya 4-5 lembar. Jadi bisa tidak bisa, aku harus
menyelesaikannya dalam waktu 3 hari itu. Seiring berjalannya waktu yang begitu
cepat, tak terasa 2 hari sudah berlalu, dan Alhamdulillah ku dapat
menyelesaikan cerpenku dalam waktu dua hari. Sehingga keesokan harinya ku
mengumpulkannya.
Dua
hari kemudian……….
Waktu
itu akan diumumkan peserta yang lolos seleksi di babak kedua. Hatiku mulai
bergetar saat ku melangkah menuju papan pengumuman. Langkah demi langkah ku
lalui, tibalah aku di depan papan pengumuman. Sebelum ku membaca hasil
seleksinya, ku awali dengan bacaan Basmallah, karena agar ku tak kecewa dengan
hasil yang telah ada. Walhasil, Alhamdulillah Allah menjadikan aku di nomor
urut 2, jadi ada peningkatan dalam menulis.
Dan
sekarang aku akan mengikuti seleksi terakhir, yang mana ini akan menentukan
siapa sang jawaranya. Untuk babak terakhir ini, panitia hanya menyediakan waktu
1 hari untuk menyelesaikan cerpennya, dengan ketentuan jumlah halamannya 6-8
lembar. Mau tidak mau aku harus bisa menyelesaikannya dalam satu malam. Dengan
penuh rasa semangat, ku akan mencoba mewujudkan mimpiku, yaitu AKU INGIN
MENJADI YANG TERBAIK DI SAAT LOMBA CERPEN TAHUN INI, KARENA AKU TAK INGIN GAGAL
SEPERTI TAHUN-TAHUN KEMARIN. Semoga aku bisa mewujudkan mimpiku itu.
Saat
ku akan berangkat sekolah, tak lupa aku minta do’a restu orang tua, semoga
Allah memberikan yang terbaik untukku. Dengan perasaan senang dan percaya diri,
aku mencoba melangkah untuk menuju ke sekolah. Sampai di sekolah, aku langsung
menuju perpustakaan dan menunggu panitia dating. Jam 06.30 panitia baru dating,
aku pun menyapanya dengan ramah. Dengan wajah yang berseri-seri dan haru, aku
mengumpulkan naskah cerpenku ke panitia. Dan aku juga menanyakan kapan hasil
seleksi akan di umumkan, dan kata panitianya adalah hari senin setelah upacara
bendera. Dengan hati senang, aku segera menuju ruang kelas.
Hari
senin kemudian…….
Hari
yang ku tunggu-tunggu telah tiba. Setelah upacara pun pengumuman hasil lomba
cerpen tingkat sekolah diumumkan.
“Assalamu’alaikum
Warohmatulloh Wabarokatuh”, ucap salah satu panitia lomba.
“Wa’alaikumsalam
Warohmatulloh Wabarokatuh”, jawab peserta upacara secara serempak.
“Mohon
perhatiannya sebenyar ya. Saya sebagai perwakilan panitia perlombaan cerpen di
sekolah kita, saya akan membacakan pemenang yang berhasil masuk 3 besar. Dan
bagi yang nanti saya sebut namanya, dimohon untuk maju ke lapangan di dekat
Pembina Upacara. Inilah sang jawara kita, juara 3 di raih oleh Adjie Bramasto
dari kelas XII TKR 1, juara 2 diraih oleh Umi Sholikhah dari kelas XII TKJ 3,
dan yang meraih juara satu adalah……………….Aisyah dari kelas XI TKJ 1. Itulah sang
jawara-jawara kita… silahkan maju ke depan” ujar salah satu panitia lomba (dengan suara yang berkobar-kobar).
Tepuk
tangan secara serempak dari siswa-siswi sekolah dan guru-guru membuat hatiku
senang berpadu haru. Karena aku tak menyangka bahwa akulah yang menjadi terbaik
di sekolahku. Kakiku melangkah ke depan dengan penuh haru. Sampai di depan, aku
pun di beri piala sekaligus piagam penghargaan. Aku pun menerimanya dengan hati
menangis bahagia.
Dan
setelah aku mengikuti lomba tingkat sekolah, kata salah satu panitiaku, aku
akan diikutkan lomba tingkat kabupaten, dan jika menang lagi, aku akan diikutkan
lomba di tingkat provinsi/nasional. Ibuku pasti senang melihat aku dapat juara,
apalagi menjadi yang terbaik di sekolah.
Seminggu
kemudian…………
Alhmadulillah
mimpiku sudah terwujud, dan kini aku akan mencoba untuk mengikuti lomba tingkat kabupaten. Ketika perlombaan
sudah dilaksanakan, kini aku tinggal menunggu hasilnya, dan Alhamdulillah Allah
telah menjadikanku terbaik di Kabupaten ini. Subhanallah..sungguh hal yang luar
biasa. Dan 4 hari yang akan datang aku akan mengikuti lomba tingkat nasional.
Aku harus benar-benar jeli dan teliti, dan aku ingin membanggakan kedua orang
tuaku dan sekolahku.
4
hari kemudian……….
Hari
yang ku nanti telah tiba, saatnya ku bertarung melawan ratusan peserta dari
penjuru kota yang mana dilaksanakan di perpustakaan ITS Surabaya. Aku harus
benar-benar berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi yang terbaik. Saat aku
mengikuti lomba tersebut, aku hanya disediakan 3 lembar kertas dan 1 buah
bolpoint, karena pada saat lomba, cerpenya harus dalam bentuk tulisan tangan,
bukan naskah ketikan. Karena panitia takut jika ada yang curang dalam
perlombaan ini. Aku pun berusaha menuangkan pikiranku di atas kertas tersebut.
Bagaimanapun hasilnya, aku akan terima apa adanya bukan ada apanya. Setalah
perlombaan selesai, setiap peserta di beri alamat website untuk mengetahui
siapa saja yang menjadi juara. Dan 2 hari kedepan, baru ada pengumuman dari
panitia.
2
hari kemudian……….
Setelah
pelaksanaan lomba, kami pun kembali ke sekolah tercinta. Dan 2 hari kemudian
pengumuman telah tiba, dan dapat dilihat di website yang telah di berikan ke
setiap peserta kemarin. Dan salah satu guru pendampigku pada saat lomba,
membuka websitenya, di website tersebut tercantum nama-nama ratusan peserta.
Dengan perasaan kaget, guruku memberitahuku sambil meneteskan air mata.
“Nak…..!!!!!!”,
dengan suara halus dengan mata yang memerah.
“Kenapa
bu? Pasti aku tidak lolos ya bu. Sudahlah bu jangan menangis, ini semua sudah
ditentukan olehNya, aku yakin suatu saat aku bisa kok bu. Jang bersedih ya bu”,
ujarku dengan santai.
“Tidak
nak, kamu telah membuat kami bangga kepadamu. Ibu menangis bahagia, karena kamu
telah menjadi pemenang cerpen terbaik di tingkat nasional ini. Ibu bangga nak.
Ibu bangga. Selamat ya nak”, ujarnya (sambil
menetskan air mata).
“Benarkah
Bu. Ibu guru tidak berbohong kan, coba aku lihat!!!!” ujarku (Sambil melihat halaman website tersebut dan
meneteskan air mata)
“Iya
nak, Ibu tidak berbohong.” Ujar Bu Guru (sambil
menyodorkan laptopnya)
“Subhanallah…
iya bu, ternyata benar. Terima kasih ya bu atas dukungan dan do’anya. Saya tidak
bisa membalas semua kebaikan Ibu/Bapak guru, saya hanya bisa mendo’akan, semoga
Allah membalas semua kebaikan Bapak/Ibu guru.” Ujarku (sambil memeluk Ibu guruku)
“Iya…sama-sama
nak, ini semua juga berkat Ridho Allah serta kegigihanmu juga. Kami yang
harusnya berterima kasih, karena kamu telah membanggakan kami dan mengharumkan
nama sekolah. Iya nak..Aamiin.” Jawab
Ibu guru.
Setelah
melihat pengumuman di website tersebut, panitia pun memberitahu pihak sekolahan
bahwa salah satu siswanya lolos dan mendapatkan juara. Sehingga 2 hari setelah
pengumuman aku dan salah satu perwakilan guru di suruh datang ke perpustakaan
ITS Surabaya untuk penyerahan piagam penghargaan dan sejumlah uang.
2
hari kemudian……..
Hari
ku nantikan telah tiba, aku dan Bu Nia (salah satu guruku) berangkat ke perpustakaan
ITS Surabaya naik bus PATAS. Aku tak di pungut biaya apapun, karena semua biaya
ditanggung sekolahan. Di perjalanan, aku sangat menikmati suasana. Hujan
gerimis mengiringi perjalananku dan seakan-akan langit ikut menangis bahagia.
Jam
13.00 WIB………
Aku tiba di Surabaya pukul 13.00 WIB, sampai
disana aku dan bu Nia melaksanakan sholat dhuhur terlebih dahulu di Masjid
Manarul Ilmi ITS. Subhanallah sungguh besar panitia kekuasaan Allah SWT, karena
telah mempertemukanku kembali dengan sejuknya masjid ini setelah 1 taun tak
berkunjung. Setelah aku dan Bu Nia melaksanakan sholat dhuhur, kami berdua pun
makan siang, lalu menuju perpustakaan ITS. Sesampai di perpustakaan ITS
Surabaya, aku pun di sambut dengan senyuman oleh para panitia. Aku pun
merasakan senang sekali. Baru pertama kali aku memasuki perpustakaan yang
begitu besar dan luas. Subhanallah, sungguh luar biasa sekali.
Orang-orang
yang datang di acara tersebut sangatlah banyak, mungkin sekitar 200 jiwa, yang
terdiri dari peserta lomba yang menang, mahasiswa, pengurus perpustakaan, dan
dosen-dosen yang mengajar di ITS. Aku merasakan bahagia sekali, karena aku
belum pernah sama sekali berkumpul dengan orang-orang yang luar biasa seperti
mereka.
Saat
acara belum dimulai, aku pun berbincang-bincang dengan salah satu mahasiswa ITS.
Dan secara kebetulan mahasiswa yang berbincang-bincang itu adalah mahasiswa
jurusan Teknik Informatika. Yang mana Teknik Informatika adalah jurusan yang
paling aku senangi saat pertama aku masuk SMK. Dia bernama Nabilla, asalnya
dari Semarang. Aku merasa sangat senang sekali bisa berbincang-bincang secara
langsung dengan mmbak Nabilla. Dia menceritakan kisah hidupnya yang sejak kecil
tak pernah mendapat perhatian orang tuanya karena sibuk dengan pekerjaannya.
Hingga akhirnya dia memutuskan untuk tinggal dengan neneknya karena tak betah
tinggal dengan orang tuanya. Aku pun mendengarkan cerita mbak Nabilla sampai
akhirnya tidak terasa bahwa acara telah di mulai. Aku pun duduk bersanding
dengan mbak Nabilla dan Bu Nia. Dan tak lupa ketika itu, aku meminta nomor HP
mbak Nabilla agar aku bisa berkomunikasi dengan dia.
15
menit kemudian……
Ketua
perpustakaan datang di acara penyerahan hadiah kepada para peserta yang menjadi
juara, lalu 15 menit kemudian beliau menyerahkan hadiah untuk para juara.
Selain aku mendapatkan hadiah, aku juga mendapat piagam penghargaan “penulis
cerpen”, serta cerpen yang aku buat juga akan dimuat dalam kumpulan-kumpulan
cerpen anak bangsa. Aku merasa sangat senang sekali, Karena aku bisa
membanggakan kedua orang tuaku dan sekolahanku. Semoga kelak aku bisa menjadi
pengarang yang sukses. Aamiin….
Itulah sekilas impianku.
Aku ingin menjadi seorang penulis yang terkenal. Yang mana tulisanku di kenal
banyak orang. Aku sudah berkali-kali mencoba mengikuti lomba cerpen, tapi aku
belum pernah menang. Dan itu tak masalah bagiku, karena aku sudah mendapatkan
kesenangan tersendiri, yaitu aku dapat menyalurkan hobiku lewat tulisan. Dan
aku yakin, suatu saat aku bisa memenangkan lomba cerpen. Meskipun aku tak
pernah menang dalam setiap perlombaan, tapi aku tetap positive thinking. Dan
itu menjadi salah satu motivasi bagiku. Karena kegagalan merupakan awal dari
kesuksesan, karena kegagalan bukanlah akhir dari segala-galanya. Semakin banyak
kegagalan yang kita alami, maka kita harus bangkit, dan yakinlah pasti kita
BISA. Kita harus bangkit jika kita mengalami kegagalan. Jangan menyerah dalam
menggapai impian. Awali dengan niat yang kuat, lakukan dengan penuh semanngat,
yakinlah bahwa kamu BISA, dan akhirilah dengan do’a. sebelum dan sesudah
melakukan sesuatu, biasakanlah berdo’a, agar segala yang kita lakukan di ridhoi
oleh Allah SWT. Itulah motivasi yang ku tanmkan di dalam jiwaku. Semoga secuil
cerpen yang aku buat ini bisa bermanfaat bagi siapapun. Aamiin.
Ini tulisan di waktu aku masih SMK. Tanpa editan. Bisa kujadikan sejarah nih, bahwa aku pernah menulis. Yah, walaupun kurang maksimal.
Ditulis di Ngawi, 8 Maret 2013
Friday, November 25, 2016
Tua Usianya Muda Jiwanya
Aku belajar
banyak hal sama beliau. Ia adalah Emak angkatku disini. Aku tinggal bersamanya sudah setahun lebih lamanya. Beliau wanita yang
sangat tangguh. Di usianya yang hampir kepala 7, ia masih tetap semangat
bekerja.
Ia bekerja sebagai
juru masak. Ada 3 orang yang membersamainya memasak. Memasakkan kurang lebih
seribu porsi tiap hari senin sampai jum’at. Bisa membayangkan kan bagaimana
sibuknya memasak yang tidaklah sedikit.
Tiap hari harus
bangun lebih awal dan menyiapkan segala keperluan. Ada yang belanja, masak
nasi, memotog-motong sayur, mengupas, mencuci, dan kegiatan lainnya. ‘Duh rempong sekali ya ternyata jadi
emak-emak itu’ mungkin dalam hatimu akan berkata seperti itu.
‘Guna memberi saku ke anak dan cucunya
ketika Hari Raya Idul Fitri atau saat mereka membutuhkan’ katanya suatu
hari padaku. So sweet sekali ya emak
ini. Sayang sekali sama anak dan cucunya.
Memang benar
kenyataannya. Mendekati bulan puasa tahun 1438H ini, sebelum ia kembali ke
kampung halaman, ia membelikan cucu-cucunya tas dan mukena. Hhhmm, bisa kebayang
kan kasih sayangnya emak.
Aku banyak
belajar dari beliau. Mulai dari bangun tidur hingga ia tidur lagi. Subahanallah
aku sangat bersyukur sekali bisa mengenalnya. Allah pertemukanku dengan
orang-orang hebat.
Kamu bangun
tidur jam berapa? ‘jam 03.00’ atau ‘jam 04.30’ atau ‘bangun setelah shubuh’. Kalah deh sama emakku satu ini, ia selalu on time jam 02.30 loh. Pasti jam segitu
sudah bangun. Padahal tidak bunyi alarm loh. Seakan ia itu selalu menyalakan
alarm otomatis di dalam otaknya.
Lalu, setelah bangun
tidur, apa yang kamu lakukan? ‘Main
gadget?’ atau ‘Tidur lagi, nunggu
adzan shubuh?’ atau melakukan hal yang lain?
Hhhmm… Kalau
emak nih, bangun tidur langsung ambil air wudhu lalu mendirikan sholat Lail.
Keren kan? Yuukk kita contoh emak ini. Kamu yang masih muda, jangan kalah donk
sama emak-emak cucu 8 ini. Walaupun sudah tua tapi jiwanya masih muda.
Kira-kira
setelah sholat Lail, emak ngapain ya? ‘tidur
lagi’ atau ‘main HaPe’ atau yang
lain. Yah, tidak mungkin lah yaw kalau emak bakalan main HaPe atau tidur lagi.
Kan ia punya tanggungan untuk memasak.
Jadi, setelah
sholat Lail, ia segera bergegas menuju tempat favoritnya. Dapur idaman. Mengisi
air ke dandang, mencuci beras, menunggu air mendidih sembari mencuci perkakas
yang kotor. Memasak nasi hingga matang. Sambil menunggu nasinya masak, ia
mencuci pakaian. Cucian sudah selesai, ia lanjutkan menyajikan nasi.
Dilanjutkaan menjemur pakaian. Ia mandi, temannya yang memasak lau datang.
Setelah mandi ia melaksanakan sholat shubuh. Sudah menjadi kebiasaan ia mandi
sebelum sholat shubuh.
Kalau
kamu ngapain setelah sholat Lail?
Aku sering mendengarnya selalu berdzikir panjang setelah sholat shubuh. Sholat dan dzikir
bisa sampai 10-15 menit, tergantung kondisi. Salut banget deh sama emak ini.
Luar biasa sekali.
Setelah sholat
shubuh selesai, ia melanjutkan ativitasnya. Membantu yang lain menyiapkan
lauknya. Nggak capek ya emak ini?
Kalau dibilang capek ya capek. Tapi kan ini sudah menjadi kewajibannya sebagai
karyawan.
Disela-sela kesibukannya
dari bangun tidur tadi, aku selalu mendengarnya membaca sholawat, istigfar atau
dzikir yang lain. Sungguh menyejukkan bukan? Emak yang sudah setua itu
senantiasa melantunkan dzikir disela kesibukannya. Lalu apakah kita juga selalu
mengingat Allah ditengah-tengah kesibukan kita?
Dari jam 02.30
sampai jam 17.00 ia bekerja. Kalian kuat berapa jam bekerja? Rata-rata orang
bekerja itu hanya 8 jam/hari. Benar kan? Dari 4 emak yang jadi juru masak,
ialah yang paling banyak pekerjaannya. Lainnya hanya dari jam 04.30 sampai jam
15.00.
Aku bekerja jam
07.00 sampai jam 17.00. Sampai dirumah, aku melihat emak sudah tertidur pulas
sembari mendengarkan radio. Suara Muslim Surabaya (Sham FM) adalah gelombang
radio kesukaannya. Ia pasti kelelahan dengan aktivitasnya seharian.
Saat adzan
magrib ia bangun dan sholat berjamaah denganku. Setelah itu, emak berbaring
lagi sembari mendengarkan dan menirukan Al-Ma’tsurat dari Sham FM. Mungkin ia
sudah hafal bacaan Al-Ma’tsurat.
Kalau kamu, tiap sore baca Al-Ma’tsurat
juga apa nggak nih? Yuukk Al-Ma’tsuratnya
jangan lupa tiap pagi dan petang. Jangan kalah sama emak-emak.
Setelah
Al-Ma’tsurat, menunggu isya’ sembari bercengkrama denganku. Sholat isya’ lalu
ia pergi ke pulau kapuk. Begitulah aktivitasnya sehari-hari.
***
Kamu.
Iya kamu.
Jangan malas-malasan
ya. Apalagi yang masih muda. Pasti jiwanya lebih kuat. Sebisa mungkin usahakan
bangun malam. Dirikanlah sholat Lail. Masak kamu kalah sama emak-emak cucu 8.
Jangan lupa mengingat Allah dimanapun, kapanpun dan dalam keadaan apapun. Kan
sudah jelas dalam Al-Qur’an.
“Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya
kamu berdiri (sembahyang) kurang dari
dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian
pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menetapkan
ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat
menentukan batas-batas waktu-waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu,
karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran. Dia mengetahui bahwa
akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di
muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi
berperang di jalan Allah, maka bacalah
apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran dan dirikanlah sembahyang,
tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dan
kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh
(balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling
besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS.Al Muzzammil : 20)
Yuuukk…semuanya.
Saling mengingatkan sesama dalam hal kebaikan. Andai ada temanmu yang berbuat salah,
diingatkan. Jangan malah dibiarkan. Senantiasa berusaha memperbaiki diri yaa.
Keep smile.
Selamat Hari Guru
Teringat bahwa pagi ini adalah hari guru. Aku langsung
mengucapkan selamat hari guru pada guru SMP-ku dulu. Hanya ada satu kontak yang
masih tersimpan. Lainnya hilang karena HP sedang ada masalah.
Wahai guruku,
Engkaulah pelita dalam hidupku,
Tanpamu aku tak mengenal ilmu,
Terima kasih guruku,
Terima kasih telah mendidikku,
Ku tak mampu membalas semua jasamu,
Hanya bait-bait do’a yang mampu
kupanjatkan untukmu,
Dari Muridmu,
Dwi Andayani (Alumni SMPN 1 Padas)
Terkirim 07:32:02 25 November 2016
Hanya itu yang mampu kutuliskan. Aku tak bisa menulis
panjang lebar. Kata-katanya pun juga tak beraturan. Maklum, aku bukanlah pujangga
yang pandai merangkai kata.
Mataku berbinar-binar. Ada balasan SMS dari guruku.
Iya. Makasih sayang
atas segala do’amu. Semoga ibu tetap bisa menjaga amanah dan bermanfaat bagi
anak-anakku, murid-muridku, keluargaku, juga bangsa dan negaraku. Aamiin
Diterima 07:35:24 25
November 2016
Seketika itu pula air mataku jatuh membasahi pipiku. Hatiku
tersentuh pada beliau, guruku.
Sudah sekian tahun tidak berjumpa. Tiap Hari Raya Idul Fitri
aku selalu gagal datang ke rumahnya. Hanya mampu mendo’akan semoga suatu hari
nanti bisa berjumpa kembali.
Terima kasih bu. Diantara ribuan murid yang telah kau didik,
ternyata engkau masih mengingatku. Aku sangat merindukanmu wahai guruku.
Subscribe to:
Posts (Atom)


